Desember 25, 2011

kurasakan kembali, Indonesiaku

Ciputat, sudut sempit pinggiran ibukota, daerah perbatasan. Kutemukan bangsaku kembali di sini.
Beberapa jam lalu dengan sangat jelas aku mampu merasakan spirit Indonesia hadir di diri manusia-manusia di sekitarku. Aku juga. Ini hal yang lama yang dirindukan banyak orang. Aku juga. Aktivitas sederhana tapi sangat luar biasa untuk yang hadir. Aku juga.
Pagi ini kami hanya melakukan kerja bakti, hanya itu saja. Nilai semangat gotong royong yang terkandung di dalamnya sangat besar. Inilah Indonesia, bangsaku. Aku tak menyangka ini bisa hadir di daerah dengan manusia sibuk seperti ini.
Menilik pandangan setiap hari, manusia di sini luar biasa sibuknya. Sibuk dengan urusan pribadi. Lebih mementingkan ego daripada masyarakat. Individualistis, singkatnya. Lupa kalau mereka tinggal di mana. Lupa kalau di samping rumah mereka siapa, manusia juga bukan? Manusia apapun latar belakangnya, agamanya, statusnya tetaplah manusia. Ditakdirkan untuk hidup bersama dalam keberagaman. Menjalin hubungan kemasyarakatan yang harmonis. Sangatlah tak pantas apabila kerukunan yang indah ini hancur hanya karena perbedaan. 
Kehidupan memang banyak berubah namun bukan berarti nilai luhur pudar, atau sengaja dipudarkan oleh sebagian golongan? Tugas kita sebagai manusia, makhluk Tuhan adalah memahami yang terjadi di sekitar kita dan melakukan tindakan nyata. Bukan sekedar menggembar-gemborkan naskah, tapi melakukan aplikasi dari esensinya, bukan apa yang kita lihat oleh mata belaka.
Menjaga tradisi lama yang baik, lalu mengambil sesuatu yang baik dari yang baru.
Sah-sah saja kita mengikuti trend yang mengikut arus modern tapi tradisi dan nilai luhur yang telah berkembang tetap dijaga. Tanpa sedikitpun ditinggalkan.

Desember 23, 2011

ia pun masih terbang


Perjalanan mampu menghasilkan banyak kisah, membawa oleh-oleh untuk manusia dan dunia. Bagaimana dengan perjalanku? Semoga tak sia-sia sajalah semua yang telah terlewati, dilewati, dilewatkan, dan terlewatkan. Setidaknya ada segelintir pikiran yang cukup usia untuk lahir malam ini.
Ini soal burung betina. Ia elok.  Bahkan untuk mahluk seperti pohon pun mengakuinya. Ia menghipnotis. Bahkan pohon pun merelakan dirinya untuk melakukan sesuatu luar biasa demi sang burung betina. Beberapa pohon mungkin telah melakukan kegilaan, melewatkan dirinya sendiri dan mengalihkan pandangan atau juga nafasnya hanya untuk menikmati keindahan itu.
Pohon-pohon itu tampak masih kokoh berdiri tanpa seorang pun tahu seberapa keropos batang yang menopangnya. Batang itu mungkin kopong hanya karena seekor burung betina yang tak berekor. Batang itu rela melewatkan dirinya tak terisi oleh benih kehidupan karena lebih menginginkan bagian lain tumbuh dengan sempurna. Dahan. Ditumbuhkan dengan penuh cinta untuk sang burung seorang. Dirindangkan begitu rindang untuk membuat sang betina merasakan nikmatnya keteduhan dalam atmosfer perlindungan. Sadarkah pohon kalau burung betina tak selamanya berada di sisi mereka?
Burung betina hanya singgah. Cuma mampir saja.
Sekarang ia terbang lagi, melanglangbuana ke luasnya dunia. Mencari pohon yang sempurna untuknya. Melirik dahan yang satu dan menyingkirkan dahan yang lain. Meninggalkan beberapa jejak di pohon, tai kering yang hanya bisa hilang jikalau pohon menanggalkan dahannya agar tetesan air langit bisa menghapusnya. Membersihkan jejak kotor dan menumbuhkan batang yang jauh lebih kokoh.
Lalu kemanakah burung betina itu detik ini? no one knows.
Semoga lekas ia menemukan pohon terbaik tanpa meninggalkan tai lagi.

Desember, akhir.

Oke, sobat-sobat yang mungkin tak kukenali di luar sana. Bahkan yang kukenali, tapi aku belum mengenalnya secara penuh. Atau seharusnya aku sendiri yang membutuhkan eksplorasi diri lebih jauh, jauh lebih dalam.
Salam, jemari ini akan bersenam beberapa hari dan memeriahkan dunia. Menjadi bagian dari dunia yang sudah hiruk pikuk. Selamat datang di dunia, buah pikirku!

November 16, 2011

malam kemarin

Jalan yang terlalui semalam memang baru, tapi tetap saja tak menunjukkan kerataannya. Bukan itu sesungguhnya yang terrekam dalam kepalaku, tapi hal lain yang jauh lebih pantas untuk dipikirkan. Memikirkan sekedar jalan?bukan. Atau lampu sepanjang jalanan tak beraspal yang terlalu silau untukku karena lebih memilih untuk berada dalam dunia yang gelap?bukan itu juga. Aku lebih memikirkan beberapa kalimat yang kudengar beberapa saat lalu sebelum aku memutuskan untuk memasukkan kunci lalu memacu motor silihan secepat mungkin agar aku kembali ke teritorialku, duniaku.
Sesorang menceritakan bahwa manusia tanpa nama menumpahkan pikirannya ke dunia, tentang pendapatnya akan aku dan masa depan yang masih berkabut. Katanya aku tak akan sukses, sesukses A atau B atau Y atau Z! Aku cuma bisa menunjukkan sebuah simpul di wajah tanpa aku bisa mendeskripsikan. Sesaat aku cukup khawatir. Tapi aku menyadari, itu sebuah tantangan.
Masa depan masih di awang-awang. Sepanjang apapun tangan kita mencoba menggapai, tetap saja itu mutlak tak bisa digenggam sebelum waktu yang tepat itu tiba. Detik ini kita hanya bisa menginvestasi hal kecil untuk masa depan. Menit ini kita cuma mampu untuk memperindah diri agar menjadi manusia sebaik yang kita bisa, bukan penjahat.
Success is everyone's right.

November 14, 2011

tanggal 14

hari ini super biasa saja.
nothing's special but these words,
I am nothing, even I've done everything to make myself just like today.
We are great thing, whether we can fly high, not alone but all of us.

November 12, 2011

dunia meracau siang ini

Kucing cengkring datang, "meong-meong". Kubalas dengan hal yang sama. Ia lalu duduk, menjilati semua bagian tubuhnya. Tak bisa kubayangkan kalau aku mengikutinya juga. Yang ada cuma bau jigong akibat sudah sejak berapa abad tak mandi. Tapi aku menikmatinya walaupun orang lain meneriakkan protesnya atas aku.
Ini siang hari di pinggiran ibu kota, teriknya minta ampun. Tapi tenang saja, aku tak akan mengampuni karena justru akulah yang harus minta ampun pada yang telah menciptakan panas ini. Atas protesku terhadap segala nikmat yang harusnya kusyukuri. Di tengah hari ini aku cuma ingin melaporkan pada dunia tentang apa-apa yang terjadi dalam pekan ini. Cukup menarik, tapi cukup membuat orang lain ingin mengeluarkan isi perutnya.
Senin sampai jum'at, tetap dengan rutinitas luar biasa. Karena aku tak ingin menjadikannya biasa-biasa saja. Kuliah, diskusi, praktikum, tugas, buku, dan hal yang menjadi santapan telah berlalu. Tapi ada yang sangat kurindukan di akhir pekan ini. Seminar. Aku masih bisa dengan gamblang mengidentifikasi betapa di dalam kepala dan dada ini masih ada energi besar untuk digunakan. Bukan dipakai untuk hal yang menjadi rutinitas, tapi untuk suatu hal baru yang dibungkus dalam sebuah rundown yang dengan susah payah dibikin oleh panitia. Energi itu sebagian telah tersalurkan dengan rapi semalam.
Sekedar berkisah, semalam organisasi yang menjadi pijakanku di perkuliahan ini mengadakan sebuah kajian dan diskusi, tapi menurutku lebih pantas kalau acara semalam dibilang main-main. Bukan main-main biasa. Seseorang yang datang pun tak main-main. Tapi bisa membuat tubuh, otak, dan hati sahabat-sahabat dan aku bermain-main sebebas-bebasnya.
Sebenarnya cukup banyak hal kudapat dalam beberapa jam saja semalam, namun ada satu yang sangat membuatku dengan mudah mengingatnya. Aku begitu membutuhkannya. Sederhana, tapi dengan bodohnya aku lalai.
Ini hanya soal keterbukaan, kepercayaan diri, dan kebebasan. Sederhana tapi sangat luas penerapannya. Sejujurnya aku sangat ingin bisa menyapa setiap orang yang kutemui di penghujung dunia manapun. Tapi hanya gara-gara berfikir terlalu ke depan, dengan berasumsi yang macam-macam aku membatalkannya, pun hanya tersenyum pun aku enggan. Kuyakin beberapa orang di luar sana sedikit sama denganku. Aku ingin tersenyum pada dunia seisinya :)
Kadang aku juga tiba-tiba menjadi paranoid. Merasa terancam keberadaanya akibat sesuatu yang lain. Entah manusia atau bukan. Ini soal percaya diri, jelas soal ini. Orang yang percaya diri, mampu mengetahui sejauh mana yang ia miliki. Sejauh mana dirinya dapat berbuat. Sejauh mana pengaruhnya dapat diberikan ke atmosfer di sekitarnya. Orang yang hebat adalah yang mampu mengenal dirinya sendiri. Dan aku, sudahkah mengenal aku? Belum.
Keterbukaan. Mengizinkan semuanya yang ada di dunia masuk. Apalagi manusia. Yang menurutku jauh dari kesempurnaan, tapi menurut beberapa orang sangatlah sempurna. Secara buka-bukaan aku mengakui betapa aku sulit untuk menerima perbedaan. Masih begitu berat untuk menerima manusia lain dengan kondisi yang tampak jelas di mataku aneh. Akulah yang aneh. Seharusnya aku tak membawa orang di sekitarku untuk menjalani hidupnya sesuai dengan caraku. Biarkan semuanya bebas. Biarkan mereka keluar, mengeksplorasi dunia dengan cara yang unik karya sendiri. Biarkan perbedaan itu ada.
Perbedaan itu nyata.
Perbedaan itu relita.
Perbedaan itu tak sama.
Perbedaan itu rahmat.
Perbedaan itu luar biasa.
Perbedaan itu kekuatan.
Pada akhirnya akupun harus mengakui bahwa manusia itu sempurna. Sempurna dengan adanya ketidaksempurnaan. Ketidaksempurnaan yang membuat ketidaksempurnaan lain menyempurnakannya. Mengisi lubang di jalan dengan aspal. Kemudian menghaluskannya. Memberikan segenap yang kita punya untuk manusia lain. Bersama menjadi sempurna. Sama-sama mencapai kemenangan. Sangat indah bukan?
Last but not least, aku masih ingin terus terbang. Menjelajahi dunia. Terbang setinggi-tingginya sehingga aku bisa melihat betapa besarnya ini semua. Lalu menyadari kalau aku yang kecil ini merupakan bagian dari dunia dan bisa memberikan sumbangsih untuk kebaikan dunia. Namun tak lupa, aku masih punya sarang. Aku masih punya rumah yang menjadi pijakan. Itulah zona nyaman. Tapi aku harus keluar. Tanpa lupa pijakan.

November 08, 2011

november, membosankankah?

Ini mungkin postingan pertama di bulan ini, November.
Modul baru.
Menurutku tak seseru modul kemarin.
Kali ini hanya berkutat soal casing manusia.
Yang tampak lewat mata biasa.
Bukan lewat mata hati.
Mungkin ini yang kudapat dalam dua minggu awal ini.
Aku masih berharap lebih.

Oktober 29, 2011

bocah ingusan menuntut tuhan

Seorang sahabat duduk terdiam. Hanya tampak terdiam. Namun begitu didekati, sesungguhnya seluruh badannya berteriak. Menggugat apa yang dialaminya saat itu. Aku sama sekali tak terkaget.
Aku pernah, menuntut Tuhan. Di mana kurasakan ketidakadilannya. Di mana semua rencana luar biasa telah dibuat. Skenario telah disiapkan dengan nyaris sempurna. Dan pada akhirnya semua kandas.
Memang saat itu aku masih bocah, namun visiku telah terbang setinggi-tingginya. Harapan yang ditembakkan oleh meriam piikiranku sekilas tampak menembus segerombol awan putih yang kini agak menghitam di langit Jakarta. Dan dengan kuasa Tuhan, seketika harapan itu hilang dari pandangan.
Hari-hari setelah itu begitu kosong. Bagaimana tidak? Aku hanya mengunci diriku sendiri dalam raga yang berdaging ini. Aku sama sekali tak membiarkanku keluar. Aku hanya berteriak sejadi-jadinya di dalam. Mungkin di dalam ruang sekecil-kecilnya di sel pun aku masih berteriak. Berharap semua teriakan itu tersampaikan kepada sang pemilik hidup.
Oh my, bodohnya aku. Bahkan dari zaman masih bocah. Apa memang aku terlahir bodoh? Atau aku punya kecacatan mental, mungkin keterbelakangan mental? Atau kesempurnaan yang begitu kuidamkan manjadikanku moron, idiot. Hingga suatu waktu, aku masih takut untuk membiarkan harapan-harapan untuk terbang bebas ke langit.
Detik ini aku mulai memahami kesemuanya itu. Menyadari kalau semua yang pernah terjadi turut membentukku hingga menjadi makhluk yang seperti ini, saat ini. Memang belum sempurna, bahkan tak pernah menjadi sempurna. Tapi mengapa keinginan untuk menjadi sempurna masih tersempil di sela iga? Obsesif kompulsif.
Soal harapan itu, aku hanya bisa berspekulasi saja kali ini. Mereka memang hilang dari pandanganku saat itu. Mereka melesat menembus awan hingga mata tak mampu menjangkau lagi. Mungkin mereka masih dalam perjalanan. Dan saat sampai nanti, meraka akan menyampaikan angan-anganku saat aku tersadar penuh atau yang hanya lamunan saja.
Tuhan pasti menjawab semuanya. Maafkan aku, pernah mengadili sang Maha Adil.

Oktober 24, 2011

keacakan berulang kembali

Kembali terduduk dengan perut penuh, apa mungkin ini terlalu penuh? Di atas karpet hijau sisa acara yang belum sempat dikembalikan ke pemiliknya, kumulai menguapkan angan-angan yang sejak beberapa hari ini tak bisa terbebas ke udara. Membeku dan terkunci rapat di dalam tempurung kepala.
Wow, seseorang menulis: "Cinta adalah pemujaan. Bagaimana mungkin seseorang yang memuja anda akan menyakiti anda?"
Inilah realitanya. Untuk beberapa manusia di luar sana memang sangatlah mudah mengutarakan bahasa cinta. Sebuah kata yang sakral dan memiliki arti cukup dalam. Apa mungkin hanya buatku saja? Yang jelas lima huruf itu bak pisau bermata dua. Sama-sama tajam. Bisa membawa orang menuju atmosfer penuh dengan kedamaian saat merasakannya atau bahkan bisa membuat segumpal daging di tubuh seseorang tersayat begitu dalam. Hingga jahitan tak bisa menutup sayatan yang terlanjur terbentuk itu.
Sepertinya aku pernah meninggalkan sebuah sayatan di segumpal daging seseorang. Semoga segera datang orang lain yang bisa memberikan jahitan spesial untuknya. Yang jelas aku tak berharap orang lain itu adalah aku.
Oh iya, seorang sahabat pengembaraanku sedang terhenti sejenak langkahnya. Ia jatuh. Namun aku tak bisa menolongnya kali ini. Doalah satu-satunya yang bisa kukirimkan untuknya. Semoga ia lekas bangkit dan turut dalam pengembaraan lagi.
Get well soon, Jan !

Oktober 17, 2011

post-discussion

Di atas meja coklat luas, kumulai perjalanan di wadah tulis ini. Akhirnya, aku bisa menyempatkan pikiranku untuk tumpah, tapi tak membasahi meja. Hanya membasahi beberapa kepala manusia yang dengan isengnya membaca tulisan tak bermakna.
Ini adalah soal kekhawatiran. Kebimbangan. Sosok dengan jas putih terang yang ada di pikiranku mendadak mulai berganti. Menjadi sosok dengan jas penuh warna. Apa aku sudah tak berkeinginan lagi untuk menjadi dokter?
Tidak. Kutahu aku masih ingin menjadi itu. Bahkan lebih dari itu. Bukan sekedar dokter saja. Masih banyak hal lain yang bisa dicapai. Sejujurnya itu bukan tujuan akhir, karena aku menginginkan lebih. Wanita? hanya beberapa mili dari garis start perjalanan rally kehidupan.
Buat sebagian orang, termasuk aku juga, terbenam dalam dunia kedokteran membuat sesak nafas. Sesak. Namun masa depan yang ditawarkan cukup melonggarkan dada. Siapa yang tidak tergiur dengan rupiah yang bisa dihasilkan dari sentuhan tangan dan buah pikir manusia berjas putih? Siapa yang tak ingin jika mendapat segumpal pujian, terima kasih, bahkan doa dari manusia-manusia yang merasa telah ditolong padahal sesungguhnya Tuhan yang menolong?
Lalu mau dikemanakan diriku.
Mau menjadi apa nanti.
Yang jelas, mau jadi apapun nanti, aku hanya berharap kehadiranku dapat menjadi semilir angin yang menyejukkan buat orang-orang yang berada di sampingku. Bahkan yang jauh dari dekapanku.
Aku tak ingin menggalaukan masa depan.

September 25, 2011

Miring

Isi kepalaku malam ini sedikit mengalami goncangan mungkin. Otak yang seharusnya berfungsi baik tiba-tiba menjadi setengah berfungsi. Bukan kelainan neurologis yang terjadi. Bukan kabel-kabel yang putus. Namun sepertinya terjadi korsleting. Arus energi ide yang semestinya mengalir bak air kran, mendadak macet total. Mood yang seharusnya secerah bulan malam ini, kenapa menjadi begitu suram?
Aku tak ingin bercerita. Namun hanya ingin bercuap-cuap mengembalikan atmosfer hatiku. Mencairkan bongkahan es seperti realita efek rumah kaca yang belakangan ini terjadi. Lelehan air inspirasi itulah yang kuharapkan dapat mengisi diri malam ini.

100% bahkan lebih kubutuhkan baterai ini terisi. Hanya malam ini waktunya mengisi. Bukan esok hari.

Big thanks to my Choco.
Aku ingin sedikit membagi kue coklat bikinanku sendiri. Mungkin rasanya biasa untukku, tapi aku tak bisa menebak apakah ini bakal jadi luar biasa untuk yang lain. Atau hanya pahit saja. Sepotong kue ini bukan tentangku. Tapi tentang sobatku, Ruli.
Suatu pagi di hari yang tak terdefinisi kami beserta orang-orang dengan raut kelelahan masuk ke sebuah rungan. Cukup luas namun dingin. Udara pagi yang sudah terlanjur dingin ditambah AC cukuplah membuat ingusku berhenti bermigrasi pagi itu. Apa mungkin aku saja yang kedinginan?
Buat Ruli pagi itu mungkin terasa hangat, begitu hangat. Sehangat kopi susu yang pagi itu kuseruput bergantian dengannya. Pandangan mata Ruli sepertinya terfokus pada 1 titik. Pada seorang gadis yang buat dunianya teralih untuk sesaat, atau mungkin selamanya. Sial. Aku tak mengetahui kedatangannya tadi. Mungkin tubuhku lebih menghiraukan diri sendiri yang berusaha menghidupkan kompor pribadi supaya hangat. Ternyata gadis itu Tara. Pantas saja Ruli begitu menikmati visinya.
Pagi itu Tara cukup manis dengan balutan sweater krem. Ruli yang matanya terpaku pada Tara seketika teralih pandangannya karena Tara merasakan ada sesosok makhluk yang mengintainya. Dan itu adalah Ruli. Maka berganti Tara yang sedikit menekukkan leher dan melebarkan senyum tipis sembari mengarahkan pandangannya ke Ruli. Dengan bodohnya Ruli hanya melihat langit-langit ruangan. Berusaha menyembunyikan diri atas visinya tadi. Aku hanya bisa menahan tawa atas apa yang kulihat. Ternyata Ruli melakukannya lagi. Dan ketahuan lagi.
Kusenggol siku Ruli mencoba menggoda. Ia hanya nyengir. Cengiran itu sepertinya punya makna tersendiri.
"Rul, Rul, ternyata hobi curi-curi pandang juga ya kau!"
"Mungkin. Tapi bukan tanpa alasan."
"Alasan?"
"Ya, dalam penilaianku kaum hawa begitu tinggi. Begitu indah."
"Lalu?"
"Mereka memiliki sepasang mata yang indah, senyum yang tulus terkembang walaupun kadang hanya kepalsuan. Tapi aku menghargai itu. Hati kadang berguncang, robek, namun mereka tetap mampu untuk menebarkan senyum."
"Hahaha, mungkin kau benar."
"Aku hanya mengagumi mereka. Termasuk juga Tara."
"Akhirnya kau ngaku juga kawan. Ga usah pakai acara malu-malu segala."
"Hey sobat. Ingat. Mengagumi bukan berarti harus memiliki kan. Menyukai bukan berarti harus mendapatkannya kan. Aku akan lebih senang kalau makhluk itu tetap bebas. Terbang kesana kemari sambil menuangkan kebahagian di hati tiap orang. Termasuk juga ke aku."
"Aku juga?"
"Tentu. Bayangkan saja bila kuciptakan sangkar untuknya. Ia bakal dengan senang hati menempatinya. Tapi apakah ia akan tetap bisa terbang bebas sebebas tanpa sangkar? Tidak kan."

Seketika aku berfikir apakah sangkar yang kubuat menghalangi terbangnya makhluk indahku? Kuharap aku perlahan menggunduli jeruji penyusunnya hingga nanti ia akan terbang bebas. Bukan terbang bebas tanpa tujuan. Dan nanti ia akan kembali ke taman tanpa jeruji.

"Lalu apa kau hanya akan tetap memandanginya, Rul?"
"Entahlah. Aku hanya tahu ia cukup indah. Aku masih belum mampu untuk menciptakan dunia untuknya yang bukan sesempit dan sesesak sangkar. Yang pasti aku akan membuatnya tapi tak tahu untuk siapa."
"Baiklah, pandangi saja, Sobat! Mumpung ia belum masuk ke sangkar manapun."

Senyum lebar dari bibir Ruli menutup obrolan singkat yang kami jalani tapi tak mengakhiri pikiranku. Kata-kata sahabatku ini masih melayang-layang di langit pikiranku. Yang pasti aku harus banyak bersyukur. Bersyukur atas apa yang kumiliki hari itu sampai hari ini. Bersyukur ada yang mau mampir ke sangkar buatanku. Jeruji-jeruji itu secara perlahan akan kuenyahkan.

Siang Sesaat

Dari sudut ruang yang sama namun waktu yang jauh berbeda. Sedikit akan kubagi sejumput kata yang mungkin hanya cerita, entah apakah ini penuh dusta.
Di satu ruangan sempit yang merupakan sarang pinjaman ini mulai kutulis. Sepi. Karena penghuninya sedang melayang dalam fantasinya di pulau busa, bukan lagi pulau kapuk. Nafasnya lambat, dalam. Mungkin menunjukkan betapa nikmatnya istirahat siang ini. Tapi yang tampak dari sudut mataku tak demikian. Dalam pandanganku manusia itu berusaha melupakan bebannya. Entah beban pikiran atau raga yang begitu berat. Raut yang penuh kelelahan benar-benar tak bisa disembunyikan. Inilah hebatnya prosesi tidur. Akupun berani berteori bahwa tak seorangpun mampu menyembunyikan apa yang ia pendam di dalam kolam pikir dan rasa yang ia miliki. Semua begitu jelas.
Tiba-tiba aku jadi teringat seorang tukang sol. Di benakku pekerjaan yang ia lakukan begitu berat. Seharian bahkan mungkin hingga petang ia masih ingin mendandani benda yang paling rendah di manusia tak peduli berapapun harganya. Dua puluh ribu, seratus ribu, sejuta, berjuta tetaplah sama. Yang namanya sepatu tetaplah sepatu. Tetaplah sepasang itu diinjak-injak. Bersama dua kota kayu terkelupas berwarna hijau yang ia panggul menggunakan sebilah kayu, tukang sol berwisata menjemput rejeki. Suatu siang kuamati tukang sol itu sedang terlelap di hamparan rumput hijau yang tak begitu luas. Damai. Cuma itu satu kata yang mampu menggambarkan dirinya atas kesoktahuanku. Kuamati ia cukup lama. Tetap damai yang terlihat.
Apakah beban yang ia panggul tak menyisakan kelelahan di bahunya?
Apakah langkah-langkah yang ia rengkuh tak membuat lecet kakinya?
Apakah cahaya terik matahari tak menghanguskan semangat berkaryanya?
Apakah kantong yang mungkin masih kosong tak membuatnya menuntut atas ketidakadilan Tuhan?

Lalu bagaimana dengan tidur yang setiap malam kulalui. Orang lain yang bisa melihatnya. Mengamatinya. Menilainya. Dan akhirnya memberiku tahu atas seperti apa wujudku saat berenang dalam empang mimpiku. Di mana aku sedang memancing ikan-ikan. Bukan ikan biasa.
Aku hanya bisa berharap semoga tidur-tidurku nanti adalah tidur yang penuh dengan syukur. Penuh dengan kuncup kedamaian. Sampai nanti aku tiba pada tidurku yang terakhir, kuharap senyum menyertaiku.
Amin.

September 22, 2011

Tanpa Pena

Adzan Isya' baru saja berlalu. Waktu menghadap Sang Pemilik Hidup telah datang. Momentum melaporkan diri bahwa aku hanya seonggok daging yang dengan kemurahannya diberikan nyawa. Saat di mana seorang makhluk membeberkan curhatan atas dunia dalam satu hari ini. Insya Allah sebentar lagi. Aku ingin sedikit melonggarkan pikiranku sejenak.
Aku heran, mengapa aku begitu menikmati ini. Dunia sempit di mana aku hanya menatap sebuah membran datar dan jemariku dengan ajaib melangkah mengikuti arahan pikiranku. Sebuah simfoni dengan keteraturan. Hati sebagai penyelarasnya. Sungguh aku ingin menulis. Walaupun tanpa sebuah pena.
Hingar bingar kehidupan hari ini cukup menguras energi. Bukan lewat otot yang dengan kompaknya berkontraksi-relaksasi. Namun lewat serangkaian kabel penyusun sirkuit listrik paling rumit di dunia. Otak. Hari ini aku banyak berfikir. Mulai tengah malam hingga tiba waktu paling mulia. Dan dengan bodohnya aku nyaris selalu melewatkannya. Kusandarkan tubuh sejenak hingga sang surya nyaris menampakkan senyumnya pagi tadi. Tak mau kalah, senyumku menyambut pagi tadi.
Seperti biasa, sebuah ruangan sempit 3x3 meter menyambut kehadiranku di kampus. Sebuah arena yang kuyakin penuh dengan manusia-manusia luar biasa. Bagaimana tidak. Mereka, mungkin juga aku telah berusaha menghimpun kebutuhan kami sendiri. Dahaga akan ilmulah yang melandasi perjuangan kami yang mungkin tanpa darah. Berlusin-lusin penjelasan atas tujuh belas pertanyaan telah disiapkan. Kami pun mulai menguntai jawaban, menganyamnya menjadi sebuah kesatuan, dan pada akhirnya sebuah citra baru dalam pikiran kami muncul. Istimewa untukku, makin bercahaya saja niatku untuk menjadi seorang ksatria Tuhan. Dokter. Ya, dokter!
Sesaat kemudian, aku bersama saudara-saudara hebatku beralih ke medan perang yang lain. Ini lebih luas. Jauh lebih luas dari sekedar ruangan 3x3 meter tadi pagi. Kami mulai menguras tenaga dengan fikir. Hingga matahari beralih ke sisi barat kepala kami. Satu persatu dari kami pun kembali ke sarang masing-masing.
Tibalah aku di sarangku yang sesungguhnya hanya sarang pinjaman saja. Melepas penat. Mendinginkan kepala. Merendahkan bahu yang cukup kaku seharian ini. Namun tak mengendorkan isi kepalaku yang aku ingin tetap terus berfikir. Kunanti anak-anak ideku lahir.
Lewat tulisan tak bertinta ini.
Sungguh kunikmati hari ini.

September 13, 2011

Cukup.

Aku tiba-tiba teringat. Di suatu pagi aku melihat Ruli hanya terbaring dengan kepala menghadap jendela terbuka. Pandangan matanya bukan tanpa isi. Tampak ia sedang berfikir saat sedang menatap langit yang masih kemerahan karena matahari baru saja bangun dari peraduannya. Demikian juga aku.
Pagi itu aku bangun dengan dada yang cukup sesak. Pikiran yang masih sangat kalut. Apapun rasanya berantakan seperti rumah yang kutempati hari ini. Sebuah cerita mungkin sedikit melonggarkan kepala. Melepaskan ikatan sabuk kegalauan yang terikat erat tanpa menyisakan celah.
Ruli tiba-tiba berucap, "Sudah, cerita saja padaku, sobat! Aku tau kau punya sesuatu yang nampaknya sangat mengganggu. Mungkin aku bisa membukakan sedikit jalan untukmu."
Apa raut wajahku benar-benar tak mampu menyembunyikan apa yang terjadi?
Aku mulai menceritakan semuanya. Malam sebelumnya aku merasa benar-benar bingung. Entah muak atau marah atau galau atau apapun. Yang jelas berat rasanya malam itu. Namun kuduga aku muak dengan satu orang. Dan orang yang berada di sekeliling orbitku merasakan luapan perasaan itu. Maaf sebesar gunung pada kalian. Bahkan mungkin sebesar langit.
Kesempurnaan. Sepertinya itu yang ingin kucapai walau tak mungkin. Aku hanya ingin merengkuh apapun dalam bentuk sebaik mungkin. Bukan cuma untukku, tapi untuk orang-orang yang menyerahkan kepercayaannya padaku. Atau ini hanya modus saja karena keegoisanku?
Sumpah bahkan masih terasa sesak. Pada seseorang yang harusnya aku bisa menahan luapan perasaan aneh ini pun sesak itu kutularkan. Aku berharap ada topeng yang cukup besar yang tak hanya menutupi wajah saja, karena nyaris di semua tubuhku kurasakan perlu ditutupi. Atau bahkan lebih baik menghilang sesaat sampai sesak ini hilang. Biar orang-orang tak perlu mengetahuinya.
Mendengar rekaan cerita yang keluar dari mulutku, Ruli langsung menyambar, "Sabar..."
"Maksudnya apa, Rul?"
"Kamu memang harus belajar sabar, sob."
"Iya aku tahu, aku memang sedang berproses dengan itu."
"Sabar memang berat. Butuh kelapangan dada seluas samudra. Bahkan seluas jagad raya. Biarkan amarah yang setitik dalam dadamu melebur menjadi partikel tak berarti di luasnya ruang. Sehingga dirimu pun tak bisa mengaksesnya. Hingga ragamu tak perlu mewujudkannya dalam kekasaran. Hingga lidahmu tak perlu menjulurkan kata-kata yang bisa membuat hati orang butuh diperban."
"Ya, aku memang konyol. Harusnya aku seperti yang kau katakan barusan."
"Satu hal lagi, walaupun kesempurnaan itu indah, letak kesempurnaan manusia itu ada di ketidaksempurnaannya. Inilah keindahan manusia. Bagus memang kamu perjuangkan segalanya menuju titik terbaik yang dapat dicapai. Aku tahu standarmu akan sesuatu memang tinggi. Tapi apa orang lain menerimanya? Bisa untuk dibagi ke orang lain. Tapi tidak secara mendadak. Berangsur-angsurlah. Semua butuh periode."
"Baiklah, aku menyerah. Sepertinya aku yang salah. Muhasabah benar-benar perlu kulakukan. Hal penting ini dengan buruknya kulupakan."
Aku pergi, menyendiri. Memulai proses itu. Berharap kesesakan itu lenyap bersama debu yang terbawa angin. Sementara Ruli meneruskan visinya di jendela. Apakah pikirannya seluas langit yang dipandanginya. Terima kasih, sobat.

September 10, 2011

Mimpi, Pencerahan?

Mimpi apa aku barusan. Bukan tentangku, tapi tentang Ruli. Sudut pandangnya tentang kasih mengkasihi sungguh unik. Baik, kucoba merangkai ingatan yang perlahan pudar seiring dengan menyengatnya cahaya sang surya.
Kali ini dia mengenalkanku dengan seorang gadis. Kurasa aku tak mengenalnya namun di dalam ingatan sepertinya agak familiar. Tara. Dalam pita memori singkat berdurasi sekian menit, kulihat ia cukup periang. Energi positif berupa keceriaan dapat kuingat dengan jelas. Aku berfikir, selama ini kemana aura keceriaan yang aku idam-idamkan untuk bisa kubagi ke sekeliling? Entah apa karena dunia kedokteran menutupnya. Aku tak tahu.
Suatu sore Ruli, Tara, dan dua orang lain yang tak kutahu namanya bersafari bersama. Aku bisa melihat Ruli dan Tara duduk berdampingan. Cukup nyaman bagiku melihat mereka bertukar segalanya. Yang kutahu senyum dan tawa melingkupi seisi mobil itu. Bahkan aku yang tak terlibat sama sekalipun mampu untuk merasakannya. Sopir pun demikian.
Sampai di suatu titik, seseorang menelpon Tara. Obrolan via udara itu benar-benar tak dapat kuketahui. Mungkin hanya pemeran utama dalam sketsa mimpi semalam yang mengetahuinya. Tuhan pasti tahu. Cuap-cuap dalam gerobak itu pun berlanjut. Ruli dan Tara lagi. Isinya singkat. Sesingkat waktu di dunia dibandingkan dengan di akhirat yang penuh keabadian. Hanya Tuhan yang abadi. Surga dan neraka masih sebuah tanda tanya besar.
Tara berujar, "Cinta ditolak, Komitmen diterima."
Ruli hanya mengembangkan senyum seakan memberikan lampu hijau pada apa yang dikatakan Tara. Aku bisa menyelam dalam pikirannya dan seakan terbaca, "Nah, ini yang sebenarnya ingin kukatakan padamu sobat. Sejak dari dulu. Jujur aku benar-benar muak melihat hubungan yang dibangun hanya atas dasar sebuah perasaan cinta. Perasaan itu nyaris pasti surut seiring berjalannya waktu. Komitmenlah yang mampu menjaga jalinan indah itu. Cinta-kasih memang terasa sangat manis. Namun tanpa komitmen ia hanya akan menjadi racun yang seketika membunuh."
Aku pun tiba-tiba terbangun karena tak mau kalah dengan ayam jago. Aku ingin jadi jagoan. Mimpi itu seketika berakhir dengan sebuah kalimat saja disertai senyuman tanpa sebuah penjelasan. Sekarang tinggal aku seorang yang merenungkannya, mungkin yang lain juga.

September 09, 2011

Ruli, Sobat yang Entah Ada di Mana

Sesuai dengan janjiku kemarin, aku akan mulai menceritakan seorang sobat. Ruli. Hanya itu namanya.
Kami cukup dekat, bahkan sangat dekat. Sedekat rokok dengan asapnya. Sedekat kopi dengan letek nya. Bahkan sedekat bulu ketiak dengan ketiak itu sendiri. Cukup kami saja yang tahu.
Kekanak-kanakanku nampaknya sangat bertolak belakang dengan Ruli yang sudah mulai menginjak kedewasaan. Kesenjangan pribadi antara kami cukup lebar. Bukan selebar daun kelor. Aku hanya bisa menimbang-nimbang apa yang telah dia lakukan sebagai pelajaran. Aku hanya mampu merekam apa yang dia katakan kepadaku dengan label nasihat. Tapi apa itu merubahku? Entahlah.
Lewat beberapa inchi tulisan dalam layar tulis ini, sekalian aku minta izin pada Ruli untuk menceritakan sepenggal--berpenggal-penggal sketsa kehidupan yang semoga dapat menjadi bumbu inspirasi bagi yang lainnya.

Agustus 13, 2011

bola dan keranjang berjaringnya

BASKET. Aku tau aku cukup merindukan itu. Kayaknya ini gara2 nonton Slam Dunk 3 hari ini haha. Tapi sumpah, pengen main. Udah sejak awal JHS main, sempat pensiun dini. Lalu SHS lanjut lagi. Hanya beberapa kali ikut kompetisi. Yah, memang bukan prestasi tujuanku di sana. Cuma bersenang-senang.
No kostum 9 selama 4 tahun dan berganti jadi 4 di 2 tahun terakhir. Dari kostum berwarna orange kayak jeruk, lalu putih bermotif emas kayak tim elit, dan terakhir merah maroon.
Kurasa latihan dulu tak cukup membekas, karena niatnya cuma buat refreshing. Tapi setidaknya reflek masih ada. Semoga di semester 3 nanti kesibukan perkuliahan kedokteran yang nanti kujalani tak menghalangiku untuk main basket.
Really need friends to join me playing basketball, wanna play?

Agustus 11, 2011

Berbukalah dengan yang GRATIS

Kalau kita nonton tv, sering kita jumpai iklan salah satu teh botol dengan anchor "berbukalah dengan yang manis" (berbuka dengan saya saja haha *narsis). Namun realitanya tak seperti demikian. Kali ini edisi mahasiswa. Sebagai mahasiswa kedokteran yang merantau di kota orang, memang semuanya tak tersedia seperti halnya di rumah. Mau makan tinggal ambil, mau uang tinggal minta, mau minum tinggal teguk, dan mau tidur tinggal nggletak *emang mau tidur berdiri.
GRATIS, kata favorit kaum mahasiswa. Di bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini dan gratisan juga tentunya, aku beserta kawan melakukan perburuan. Selain perburuan pahala, kami juga berburu buka cuma-cuma. Dari satu masjid ke masjid yang lain. Dari satu undangan ke undangan yang lain. Seperti inilah kami, mahasiswa. Berjargon "berbukalah dengan yang gratis".
Sebenarnya ini bukan hanya untuk keuntungan pribadi saja. Bukan hanya untuk memuaskan dahaga dan lapar masing-masing perut setelah seharian berpuasa. Tetapi ini juga cara agar orang lain dapat beribadah. Kata agama, orang yang memberikan ta'jil atau makanan buka puasa untuk seseorang, maka ia akan mendapat pahala seperti pahala puasa yang diperoleh seseorang itu. Nah, secara tidak langsung kami membantu saudara seiman untuk mendapat pahala yang melimpah dari Yang Kuasa. Entah ini hanya teoriku saja, tapi yang terpikirkan demikian.
Yang kami lakukan ini bukanlah tanpa harapan. Semoga nanti, di saat kami telah mandiri dan memiliki rejeki sendiri, kami dapat berbagi dengan sesama. Kami dapat memberikan rejeki kami untuk orang-orang di sekitar kami. Sehingga keberadaan kami tak sia-sia di tempat singgah ini.

cmiiw

Agustus 01, 2011

kambuh, inikah penyakitku ?

Penyakit itu sepertinya masih tetap bersarang di tubuh. Bukan di organ tubuh. Lebih tepatnya di hati.
Akupun menyadari betapa penyakit ini telah lama menggorogoti, membawa dampak yang sangat tak diharapkan. Ini adalah soal keenggananku untuk hanya sekedar mengucap kata 'maaf'. Dan di hari pertama di bulan yang mulia ini kusadari ia masih menginangiku. Padahal sesungguhnya aku tau aku salah. Aku tau aku mengambil langkah yang kurang berkenan untuk orang lain. Memang tak ada sama sekali maksud untuk menyakiti, tetapi tetap saja lidah ini terlalu tajam. Ingin hati hanya sekedar berucap, tapi di hati orang timbullah kekesalan teruntukku.
Mungkin ini bukan pertama kalinya aku menyadari. Apakah aku terlalu egois untuk melempar satu kata itu? Cuek?
Angkuh?
Gengsi?
Lewat jari ini kuucap kata maaf. Lewat kalam ini turut terbang sebuah doa, "semoga di bulan yang penuh rahmat ini, Kau dapat memberi rahmat dan hidayah sehingga di akhir nanti aku menjadi insan yang jauh lebih baik".

Juli 28, 2011

angin segar

Setelah beberapa hari dengan kekhawatiran yang sangat, akhirnya kabar baikpun terdengar juga. Ini terjadi hanya sehari lalu.
Di pagi buta, aku terbangun dan hendak mengambil beberapa tetes air wudhu. Seorang kawan pun terbangun. Ia memegang ponselnya dan diamatinya layar yang bercahaya itu. Ia pun tersenyum berteriak mengucap syukur atas kabar baik yang didengarnya. Biru. Ya, itu kata yang terdengar di telingaku. Aku memahami maksudnya, lantas akupun tersenyum padanya menunjukkan kalau dopamin dalam otakku telah meningkat. Senang atas kebahagiaan yang diraihnya.
Hatiku membiru. Semakin biru dengan birunya teman-temanku. Ataukah hijau karena ada yang biru dan ada yang kuning. Namun, tetap saja masih tertinggal kesesakan. Masih ada yang belum berhasil. Sekali lagi ditegaskan BELUM BERHASIL, bukan tidak berhasil.
Pada detik ini, bersama sampah yang ditulis di gudang ilmu, teriring harapan dan doa untuk kawan tercinta. Semoga di kesempatan yang hanya sekali dan sesaat lagi terjadi, Yang Maha Rohim selalu menuntun dan memberi kasih sayangNya untuk kalian semua.
Sukses untuk kita semua, PSPD 2010

Juli 26, 2011

anugerah? musibah?

Ini adalah satu pertanyaan besarku untuk kondisi 2 hari terakhir. Di mana sangat sulit buatku untuk memposisikan diri. Di saat sangat rumit untukkku mengambil sikap yang tepat.
Kondisi ini cukup membuatku gerah. Gerah segerah-gerahnya. Mungkin beberapa memandangku cukup santai dengan pencapaian yang telah kuraih. Tapi sejujurnya ada yang sangat mengganjal di sini. Aku bersama beberapa orang dengan warna biru, namun yang lain dengan warna kuning dan merah.
Lalu apa yang bisa kuperbuat?
Support? Dukungan? Bantuan? NO ! Yang ada dibenakku kini hanya sekedar berbagi atas setitik ilmu Tuhan yang sedikit membekas dalam diriku.

Juli 21, 2011

cintakah (?)

Lima huruf, sarat makna. Nyaris setiap orang merasakannya. Sebuah rahmat yang datang dari Maha Kasih. Ini bukan tentang apa yang dikatakan muda-mudi yang dimabuk asmara. Itu bukan tentang apa yang dirasakan dua sejoli yang tengah bersama. Tapi ini tentang sebuah pemberian, pemberian dari lubuk hati yang terdalam. Aku pun merasakan ini dari Tuhan, yang memberiku semua kenikmatan ini. Dari sang Pencerah yang sangat mengasihi umatnya walaupun tak bertemu. Dari ayah bunda yang mencurahkannya hingga detik aku bernafas saat ini. Dan untuk siapa saja nanti yang mendampingiku, semoga rahmat dari pemilik hidup ini bisa aku berikan. Bukan utuh, tapi terbagi.

Juli 11, 2011

Everyday is Sunday, though it's Monday

Haha kata-kata inilah yang selalu ada di benakku selama perjalanan modul yang terjal ini. Bukan bermaksud meremehkan hari-hari yang padat jadwal, tapi hanya mencoba untuk menghibur diri. Minggu identik dengan kelonggaran, di mana sepanjang harinya diisi dengan bersenang-senang. Hari yang sangat ditunggu sebagian besar manusia. Inilah kenapa aku yang manusia ini menggemari hari di penghujung pekan ini. Ketenangan, ke'relax'an, kedamaian, bahkan keleluasaan yang mengisi hari Minggu. Sedangkan hari lainnya yang penuh dengan aktivitas, mulai dari kuliah, organisasi, dan seribu macam urusan lainnya. 

Tiap hari bak Minggu. Inginnya seperti itu sih, tapi kenyataannya tak bisa demikian. Jadi aku cuma bisa mengasumsikan kalau setiap hari itu Minggu, liburan! Sebenarnya setelah diterawang jendela pikirku mengatakan kalau kata-kata ini ada benarnya juga. Kepenatan yang kurasakan sepanjang hari selain Minggu nampaknya butuh obat. Kalimat mujarab yang bisa mengendorkan sedikit otot yang tiap hari nyaris tegang bahkan menegang. Dengan menganggap setiap hari adalah Minggu, maka pikiran kita akan menjadi relaks. Apapun permasalahan yang dihadapi, apapun tugas yang menghadang, dan apapun yang terjadi nanti akan bisa dihadapi dengan kepala dingin, dan hati dingin tentunya.

Hari ini memang Senin, bukan berarti hari yang sibuk. Hari ini kudapatkan rejeki nomplok. Kuliah sampai jam 10 doang. Jarang-jarang lah dapat diskon begini. Harap dimaklumi, mungkin buat sebagian mahasiswa hal seperti ini biasa saja atau malah nyaris tiap harinya terjadi. Tapi buat aku dan teman-teman, peristiwa bersejarah ini terhitung langka. Kami mahasiswa kedokteran yang rindu akan datangnya hari libur. Bayangkan saja betapa mirisnya kami. Teman-teman lain sudah libur, berkumpul dengan ayah, ibu, kakek, nenek, pakdhe, budhe, tante, om, adik, kakak, keponakan, mungkin buyut juga ya(?) dan kami masih terpaku di kursi kelas. Apa gara-garanya kursi ini jatuh cinta pada kami ya haha. Yang jelas semua ini akan mendapat bayaran dari empunya hidup. Jerih payah ini pasti akan mendapatkan hasil di hari kemudian. Mungkin hari ini kami teraniaya *lebay. Tapi lihat saja nanti, kami siap untuk menjadi dokter, menjadi putra dan putri bangsa yang siap mengabdikan diri ke bumi pertiwi ini.

Tiba-tiba teringat sebuah kalimat bijak. "Sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan sekarang, akan memberikan dampak yang merupakan hasil dari perbuatan itu". Rangkaian kata-kata ini lah yang coba aku pegang dan wujudkan dalam tindakan. Banyak orang bermimpi untuk melakukan hal besar. Tapi tidakkah sadar bahwa semua itu butuh proses. Semua itu butuh aksi, bukan sekedar mimpi. Aksi yang sekarang bisa dilakukan adalah melakukan hal-hal kecil,tapi ini bukan berarti kecil. Justru hal kecil inilah yang akan membentuk kita menjadi apa di masa depan nanti. Contoh simple, coba kita tengok ke belakang, di mana dulu kita berada di masa lampau. Ingatkah kita pada apa yang kita bicarakan, apa yang kita katakan, dan apa yang kita harapkan. Sekarang coba lihat hari ini bagaimana cara kita berbicara, apa kita katakan, dan apakah harapan yang dulu kita terbangkan telah terwujud. Semuanya kuyakin ada keterkaiatan dan ini merupakan rahasia Sang Pemilik Hidup.

Sepertinya setelah dilihat-lihat, tulisanku di blog masih pendek ya. Sudah pendek isinya juga membingungkan. Namun seiring dengan hari, seiring dengan semakin seringnya aku menulis, aku yakin karakter tulisanku akan dengan sendirinya terbentuk. Bukan tulisan orang, tapi tulisan yang kubikin sendiri. 

^_^
k.a.p

Juli 06, 2011

Long time no write

Yeah, it's July..
Sudah lama juga sepertinya aku tidak menyentuh blog ini, mohon maaf ya. Mungkin tulisan di bulan ke tujuh ini sedikit menggambarkan adanya perubahan dalam beberapa hal dalam hidupku, seorang mahasiswa kedokteran.
Sejak Juni lalu, memang terasa ada perubahan, namun masih dalam hal yang kecil. Mungkin hanya masalah jam kuliah yang 11-12 ama anak SMA. Berangkat jam 7, pulang jam 4 sore. Mungkin hal inilah yang jadi penyebab aku belum bisa mengenal banyak orang di rumah baru. Bahkan tetangga yang temboknya nempel pun belum kenal. Sungguh ironi.Tetapi tak apalah, nanti juga ada saatnya kami saling mengenal. Apa harus merobohkan tembok pemisah rumah ya biar bisa kenal? *ngarepnya sih begitu
Tadi itu masih belum apa-apa. Hal yang tentu berubah adalah jam biologis. Jam tidur yang berantakan ini lumayan mengganggu. Dulu modul yang masih terhitung 'ringan' dibandingkan sekarang, jam biologi masih teratur. Ada waktu istirahat, waktu bermain, dan menghabiskan waktu senggang bersama kawan seperjuangan. Tapi sekarang sepertinya sudah sirna *lebay . Modul yang ini benar-benar menyita energi dan waktu, benar-benar membutuhkan fokus tinggi. Sekarang tiap hari harus belajar, harus mencari makanan, nutrisi buat otak.
Sebenarnya hal ini wajar. Kesibukan seperti ini mutlak menjadi makanan utama bagi mahasiswa kedokteran. Namun, aku sepertinya dimanjakan dengan kelonggaran di modul-modul sebelumnya. Jadi masih sedikit ada jeritan untuk kembali ke modul yang lalu. Tapi aku sadar, kalau hanya menilik ke yang lama tak akan membawa progress dalam diri. Ilmu pun menjadi stagnan. Pengetahuan tak akan bertambah. Maka, ini saatnya buatku untuk menggali potensi diri yang diberikan empunya hidup semaksimal mungkin.
Ada satu hal lagi yang masih mengganjal. Aku merasakan diri ini menjadi dingin sejak di modul ini. Yang jelas bukan karena ada peningkatan jumlah reseptor yang peka terhadap rangsang dingin. Hipotesis yang kubuat adalah dengan kesibukan ini, pikiran hanya tertuju ke situ. Hal lain kadang dilupakan. Mungkin beberapa centi lagi mendekati autisme, tapi bukan itu. Yang terjadi nampaknya lebih karena pikiranku mulai terhipnotis ke indahnya dunia kedokteran, tapi hanya ke pengetahuannya saja. Belum menyentuh ke seni dari menjadi seorang dokter. Dengan ini teriring doa buatku sendiri agar bisa menguasai ilmu dan seni kedokteran. Menjadi dokter yang luwes. Luwes ilmunya dan luwes pembawaannya.

cmiiw
^_^
k.a.p

Mei 25, 2011

I guess it's a kind of litter

Numpang nyampah ya (!)
Yah sudah lama lah sakit model beginian, uda terlalu sering terasa sakit yang nyaris sama setiap harinya. Bahkan buat orang lain sakit demikian cukup menyakitkan, tapi tidak demikian buatku.
Udah, ah jadi curhat begini hehe ^_^
Anyway thanks buat sobat, alamat blog gue uda ketemu.
Thanks to mbah Google
Thanks to syeikh Google
Thanks to apapun
Haduh kayaknya bener2 sampah ni postingan, lagi totally random (!)
Satu hal setelah menuliskan kata2 terima kasih, aku jadi teringat kesalahn besar yang selama ini kulakukan. Nampaknya aku kurang bersyukur atas apa yang telah diberikan empunya hidup padaku. I am gifted, I realize this, but I do nothing for this *bodohnya gue selama ini.
Secara teori, gue harusnya bisa melakukan lebih dari apa yang sudah dicapai sekarang. Bukan bermaksud takabbur atau yang lain, tapi seandainya sejak awal gue memaksimalkan pemberian ini, gue yakin bisa meluncur bagai roket, atau bagai Ikki dengan Air Treknya ke langit dengan sayapnya yang membentang luas. Jadi teringat kata-kata dalam komik, "Manusia dilahirkan dan hidup di bawah langit, setiap harinya melihat langit, dan setiap orang di dunia dihubungkan oleh langit." Kalau langit udah keliatan sebegitu luas dan tingginya, dan dirimu bersayap, walaupun baru satu bulu yang tumbuh, kenapa harus berhenti untuk mencoba terbang? Toh satu bulu itu akan tumbuh diikuti bulu-bulu lain sehingga sayap yang luas akan terbentang. Ga usah menunggu sayap lebar untuk terbang, karena seperti dalam pelajaran di Sekolah Kedokteran, usaha kita itu bagaikan faktor transkripsi yang akan memacu gen-gen menjadi terekspresi, menjadi aktif, menjadi pemicu untuk bulu-bulu sayap kita bisa tumbuh.
Masihkah bermalas-malasan? *sebenarnya pertanyaan ini lebih cocok untuk dikembalikan ke diri gue sendiri
cmiiw
sorry nyampah
^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^

Maret 18, 2011

Sobahul Khoir, guys

Pagi, sebuah waktu yang terhitung sakral di mana kita sebagai seorang muslim dituntut untuk bangun dan melaksanakan sholat yang hanya 2 rokaat saja namun begitu berat. Dikatakan bahwa kalau sholat subuhnya baik, maka insya Allah akan baik sholat seorang manusia di hari itu. Maka bangunlah pagi dan ambil air wudhu kemudian laksanakanlah sholat yang diperintahkan 'empu'nya kehidupan ini.
Kutengok jalan yang tampak dari balkon. Kulihat orang berlalu lalang saat subuh tiba. Semangat sangat nampak di raut wajah mereka. 2 orang pemulung berjalan beriringan dengan langkah yang pasti seakan dalam benaknya berteriak "aku akan pulang, membawa rejeki hari ini!". Lalu ada seorang adam meyeret gerobak dengan badan tegak, seakan menunjukkan kalau ia kuat, kuat menghadapi kehidupan yang semakin sulit ini. Dan aku masih menanti, mana wanita yang kuat di pagi hari ini?semoga bisa segera kulihat.
Ketegaran dan semangat mereka di saat sang surya belum menampakkan diri ini sepertinya menyindirku. Aku yang lebih sering bangun kesiangan, bahkan kadang terdahului oleh matahari merasa malu pada mereka. Seorang pemuda, seorang pembelajar, seorang yang masih menyimpan energi banyak dalam dirinya, belum dapat berbuat apa-apa. Hanya mengeluh.
Pembelajaran pagi ini adalah sebagai seorang pemuda, seorang putra bangsa, ayo kita bangun pagi, untuk menghimpun energi sebanyak mungkin, untuk mengawali hari dengan mendekat pada sang Khaliq. Semangat di pagi hari semoga akan bertahan sepanjang hari. Tak lupa, awali hari dengan senyum dan keoptimisan bahwa "aku akan melakukan yang terbaik di hari ini!"


*akhirnya kulihat seorang pasangan suami istri yang begitu kompaknya membawa gerobak. Sang bapak yang menarik, dan sang ibu yang mendorong. Sungguh romantis. Semoga rejeki hari ini halal dan berkah ya ^_^

Maret 04, 2011

Kembali dengan Semangat Lagi

Tak terasa liburan yang dialokasikan 4 minggu, namun terlaksana awalnya 3 minggu dan diDISKON sampai jadi 2 minggu telah berakhir. Banyak keanehan yang mungkin terbilang wajar selama liburan. Liburan kali ini bener2 bak pengangguran.
Perjalanan darat pulang-pergi Bali-Jakarta selam 3 hari bener2 melelahkan. Akhirnya pulang via udara deh. Di rumah awalnya sagat menyenangkan, namun berakhir membosankan. 2 minggu dilalui hanya di depan laptop, televisi, dan bantal empuk. Yah dengan dalih istirahat ala mahasiswa kedokteran, yang biasanya sibuk dengan buku, tugas, hafalan, dan presentasi semua itu dilakukan. Tak jarang bangun pagi di siang hari hari (memalukan).
 Tapi hari-hari kemarin sepertinya cukup memberikan manfaat. Banyak petuah yang didapet dari banyak orang di rumah. Mulai dari yang tercinta, orang tua, hingga tetangga yang bisa dibilang asal cuap saja, namun lumayanlah buat bekal kembali ke ibu kota ini.
Sekarang telah tiba waktu untuk memulai rutinitas. Ya, jakarta, tepatnya tangerang, aku telah datang. Membawa segudang bekal, semangat baru, dan niat yang insya Allah lebih lurus untuk menuntut ilmuMu. Di semester baru ini ada beberapa kontrak dengan orang yang bernama Khoirul Ahmada Putra. Berikut perjanjian yang kami buat.

1. Maksimalkan kuliah di kelas, kalau yang kemaren masih ada (ke)tidurannya, semester ini NO SLEEP
2. Aktifin lagi diri di DK dan Pleno, manfaatin noh ajang tambah ilmu!
3. Khatamin 1 buku fisiologi!
4. Kurangin yang namanya E.G.O dan E.M.O.S.I
5. Be a better leader, lead your life and make a great change forward
6. Tambah temen lagi, nyambung silaturahmi manjangin umur :D
7. Merubah paradigma dalam memandang beberapa kelompok, positive thinking are absolutely needed.
8. Menambah frekuensi kontak dengan orang tua
9. Perbaiki kondisi fisik, basket + futsal jangan ditinggalin, jangan pelor mulu!
10. Jangan cuek-cuek apa jadi orang *usulan bagus nih, thanks :)

Nah, itulah beberapa yang uda di bikin. Moga bisa berjalan semuanya dah, amiiiiin :)
Plus plus plus, kata NIDJI:

Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukan dunia
Berlarilah, tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya

anyway, CHEER UP ^_^

Februari 17, 2011

No more SENIORITY !

Mohon maaf kalau tulisan ini dimulai dengan judul yang kurang mengenakkan, tapi itu mungkin sedikit luapan batin yang sejak dulu terkunci rapat di dada. Yag mau bagaimana tidak terkunci wong dialami dari jaman sekolah dulu, mungkin ampe sekarang dan beberapa tahun kemudian, damn!

Bersabar dulu lah untuk sementara waktu, insya Allah ke depan bisa mengadakan perubahan. Perlu sih dukungan banyak pihak untuk mewujudkan mimpi ini, jadi untuk yang sependapat ayo berjuang sama-sama.


Tentang pendidikan yang saya tempuh saat ini memang terasa kental atmosfer senioritasnya, tapi buat saya tidak. Enjoy aja. Ada jiwa rebel yang memaksa keluar dari jeruji besinya saat ada senior yang menunjukkan kuasanya. Saya tahu memang ada dalih untuk kebaikan kami, tapi alangkah lebih enak kalau di jenjang pendidikan yang sangat menentukan masa depan ini dihilangkan lah, minimal mulai dikurangi yang namanya SENIORITAS.


Perkuliahan ini sangat menuntut yang namanya bimbingan dari yang lebih dulu belajar. Jadi akan lebih nyaman jika si adik tanpa segan, tapi tetap dengan rasa hormat yang tak berlebihan belajar bersama degnan si kakak. Adik pun mungkin juga memiliki hal yang lebih dari kakak. Kalau tanpa senioritas belajar akan jadi lebih nyaman bukan? Kalau tetap saja dipelihara ya kurang tahu lagi.

Februari 16, 2011

Akhirnya Bisa Ingat Juga

Beginilah nasib pelupa, apa-apa gampang lupa.
Jangankan untuk menghafal akun yang seabrek, menghafal kenalan baru pun susahnya minta ampun *ampun kakaaaaak*
Tapi syukurlah, Yang Maha Besar memberikan kemampuan lebih untuk mendalami ingatan yang telah direkam *jadi selama ini nama kenalan baru itu tidak direkam dengan baik, who knows.
 Akun blogger ini pun salah satu korban hilang ingatan itu, tetapi sudah ingat lagi.
Jadi bisa menulis lagi deh haha

Thanks a lot, God