Yeah, it's July..
Sudah lama juga sepertinya aku tidak menyentuh blog ini, mohon maaf ya. Mungkin tulisan di bulan ke tujuh ini sedikit menggambarkan adanya perubahan dalam beberapa hal dalam hidupku, seorang mahasiswa kedokteran.
Sejak Juni lalu, memang terasa ada perubahan, namun masih dalam hal yang kecil. Mungkin hanya masalah jam kuliah yang 11-12 ama anak SMA. Berangkat jam 7, pulang jam 4 sore. Mungkin hal inilah yang jadi penyebab aku belum bisa mengenal banyak orang di rumah baru. Bahkan tetangga yang temboknya nempel pun belum kenal. Sungguh ironi.Tetapi tak apalah, nanti juga ada saatnya kami saling mengenal. Apa harus merobohkan tembok pemisah rumah ya biar bisa kenal? *ngarepnya sih begitu
Tadi itu masih belum apa-apa. Hal yang tentu berubah adalah jam biologis. Jam tidur yang berantakan ini lumayan mengganggu. Dulu modul yang masih terhitung 'ringan' dibandingkan sekarang, jam biologi masih teratur. Ada waktu istirahat, waktu bermain, dan menghabiskan waktu senggang bersama kawan seperjuangan. Tapi sekarang sepertinya sudah sirna *lebay . Modul yang ini benar-benar menyita energi dan waktu, benar-benar membutuhkan fokus tinggi. Sekarang tiap hari harus belajar, harus mencari makanan, nutrisi buat otak.
Sebenarnya hal ini wajar. Kesibukan seperti ini mutlak menjadi makanan utama bagi mahasiswa kedokteran. Namun, aku sepertinya dimanjakan dengan kelonggaran di modul-modul sebelumnya. Jadi masih sedikit ada jeritan untuk kembali ke modul yang lalu. Tapi aku sadar, kalau hanya menilik ke yang lama tak akan membawa progress dalam diri. Ilmu pun menjadi stagnan. Pengetahuan tak akan bertambah. Maka, ini saatnya buatku untuk menggali potensi diri yang diberikan empunya hidup semaksimal mungkin.
Ada satu hal lagi yang masih mengganjal. Aku merasakan diri ini menjadi dingin sejak di modul ini. Yang jelas bukan karena ada peningkatan jumlah reseptor yang peka terhadap rangsang dingin. Hipotesis yang kubuat adalah dengan kesibukan ini, pikiran hanya tertuju ke situ. Hal lain kadang dilupakan. Mungkin beberapa centi lagi mendekati autisme, tapi bukan itu. Yang terjadi nampaknya lebih karena pikiranku mulai terhipnotis ke indahnya dunia kedokteran, tapi hanya ke pengetahuannya saja. Belum menyentuh ke seni dari menjadi seorang dokter. Dengan ini teriring doa buatku sendiri agar bisa menguasai ilmu dan seni kedokteran. Menjadi dokter yang luwes. Luwes ilmunya dan luwes pembawaannya.
cmiiw
^_^
k.a.p
Tidak ada komentar:
Posting Komentar