Aku tiba-tiba teringat. Di suatu pagi aku melihat Ruli hanya terbaring dengan kepala menghadap jendela terbuka. Pandangan matanya bukan tanpa isi. Tampak ia sedang berfikir saat sedang menatap langit yang masih kemerahan karena matahari baru saja bangun dari peraduannya. Demikian juga aku.
Pagi itu aku bangun dengan dada yang cukup sesak. Pikiran yang masih sangat kalut. Apapun rasanya berantakan seperti rumah yang kutempati hari ini. Sebuah cerita mungkin sedikit melonggarkan kepala. Melepaskan ikatan sabuk kegalauan yang terikat erat tanpa menyisakan celah.
Ruli tiba-tiba berucap, "Sudah, cerita saja padaku, sobat! Aku tau kau punya sesuatu yang nampaknya sangat mengganggu. Mungkin aku bisa membukakan sedikit jalan untukmu."
Apa raut wajahku benar-benar tak mampu menyembunyikan apa yang terjadi?
Aku mulai menceritakan semuanya. Malam sebelumnya aku merasa benar-benar bingung. Entah muak atau marah atau galau atau apapun. Yang jelas berat rasanya malam itu. Namun kuduga aku muak dengan satu orang. Dan orang yang berada di sekeliling orbitku merasakan luapan perasaan itu. Maaf sebesar gunung pada kalian. Bahkan mungkin sebesar langit.
Kesempurnaan. Sepertinya itu yang ingin kucapai walau tak mungkin. Aku hanya ingin merengkuh apapun dalam bentuk sebaik mungkin. Bukan cuma untukku, tapi untuk orang-orang yang menyerahkan kepercayaannya padaku. Atau ini hanya modus saja karena keegoisanku?
Sumpah bahkan masih terasa sesak. Pada seseorang yang harusnya aku bisa menahan luapan perasaan aneh ini pun sesak itu kutularkan. Aku berharap ada topeng yang cukup besar yang tak hanya menutupi wajah saja, karena nyaris di semua tubuhku kurasakan perlu ditutupi. Atau bahkan lebih baik menghilang sesaat sampai sesak ini hilang. Biar orang-orang tak perlu mengetahuinya.
Mendengar rekaan cerita yang keluar dari mulutku, Ruli langsung menyambar, "Sabar..."
"Maksudnya apa, Rul?"
"Kamu memang harus belajar sabar, sob."
"Iya aku tahu, aku memang sedang berproses dengan itu."
"Sabar memang berat. Butuh kelapangan dada seluas samudra. Bahkan seluas jagad raya. Biarkan amarah yang setitik dalam dadamu melebur menjadi partikel tak berarti di luasnya ruang. Sehingga dirimu pun tak bisa mengaksesnya. Hingga ragamu tak perlu mewujudkannya dalam kekasaran. Hingga lidahmu tak perlu menjulurkan kata-kata yang bisa membuat hati orang butuh diperban."
"Ya, aku memang konyol. Harusnya aku seperti yang kau katakan barusan."
"Satu hal lagi, walaupun kesempurnaan itu indah, letak kesempurnaan manusia itu ada di ketidaksempurnaannya. Inilah keindahan manusia. Bagus memang kamu perjuangkan segalanya menuju titik terbaik yang dapat dicapai. Aku tahu standarmu akan sesuatu memang tinggi. Tapi apa orang lain menerimanya? Bisa untuk dibagi ke orang lain. Tapi tidak secara mendadak. Berangsur-angsurlah. Semua butuh periode."
"Baiklah, aku menyerah. Sepertinya aku yang salah. Muhasabah benar-benar perlu kulakukan. Hal penting ini dengan buruknya kulupakan."
Aku pergi, menyendiri. Memulai proses itu. Berharap kesesakan itu lenyap bersama debu yang terbawa angin. Sementara Ruli meneruskan visinya di jendela. Apakah pikirannya seluas langit yang dipandanginya. Terima kasih, sobat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar