September 25, 2011

Miring

Isi kepalaku malam ini sedikit mengalami goncangan mungkin. Otak yang seharusnya berfungsi baik tiba-tiba menjadi setengah berfungsi. Bukan kelainan neurologis yang terjadi. Bukan kabel-kabel yang putus. Namun sepertinya terjadi korsleting. Arus energi ide yang semestinya mengalir bak air kran, mendadak macet total. Mood yang seharusnya secerah bulan malam ini, kenapa menjadi begitu suram?
Aku tak ingin bercerita. Namun hanya ingin bercuap-cuap mengembalikan atmosfer hatiku. Mencairkan bongkahan es seperti realita efek rumah kaca yang belakangan ini terjadi. Lelehan air inspirasi itulah yang kuharapkan dapat mengisi diri malam ini.

100% bahkan lebih kubutuhkan baterai ini terisi. Hanya malam ini waktunya mengisi. Bukan esok hari.

Big thanks to my Choco.
Aku ingin sedikit membagi kue coklat bikinanku sendiri. Mungkin rasanya biasa untukku, tapi aku tak bisa menebak apakah ini bakal jadi luar biasa untuk yang lain. Atau hanya pahit saja. Sepotong kue ini bukan tentangku. Tapi tentang sobatku, Ruli.
Suatu pagi di hari yang tak terdefinisi kami beserta orang-orang dengan raut kelelahan masuk ke sebuah rungan. Cukup luas namun dingin. Udara pagi yang sudah terlanjur dingin ditambah AC cukuplah membuat ingusku berhenti bermigrasi pagi itu. Apa mungkin aku saja yang kedinginan?
Buat Ruli pagi itu mungkin terasa hangat, begitu hangat. Sehangat kopi susu yang pagi itu kuseruput bergantian dengannya. Pandangan mata Ruli sepertinya terfokus pada 1 titik. Pada seorang gadis yang buat dunianya teralih untuk sesaat, atau mungkin selamanya. Sial. Aku tak mengetahui kedatangannya tadi. Mungkin tubuhku lebih menghiraukan diri sendiri yang berusaha menghidupkan kompor pribadi supaya hangat. Ternyata gadis itu Tara. Pantas saja Ruli begitu menikmati visinya.
Pagi itu Tara cukup manis dengan balutan sweater krem. Ruli yang matanya terpaku pada Tara seketika teralih pandangannya karena Tara merasakan ada sesosok makhluk yang mengintainya. Dan itu adalah Ruli. Maka berganti Tara yang sedikit menekukkan leher dan melebarkan senyum tipis sembari mengarahkan pandangannya ke Ruli. Dengan bodohnya Ruli hanya melihat langit-langit ruangan. Berusaha menyembunyikan diri atas visinya tadi. Aku hanya bisa menahan tawa atas apa yang kulihat. Ternyata Ruli melakukannya lagi. Dan ketahuan lagi.
Kusenggol siku Ruli mencoba menggoda. Ia hanya nyengir. Cengiran itu sepertinya punya makna tersendiri.
"Rul, Rul, ternyata hobi curi-curi pandang juga ya kau!"
"Mungkin. Tapi bukan tanpa alasan."
"Alasan?"
"Ya, dalam penilaianku kaum hawa begitu tinggi. Begitu indah."
"Lalu?"
"Mereka memiliki sepasang mata yang indah, senyum yang tulus terkembang walaupun kadang hanya kepalsuan. Tapi aku menghargai itu. Hati kadang berguncang, robek, namun mereka tetap mampu untuk menebarkan senyum."
"Hahaha, mungkin kau benar."
"Aku hanya mengagumi mereka. Termasuk juga Tara."
"Akhirnya kau ngaku juga kawan. Ga usah pakai acara malu-malu segala."
"Hey sobat. Ingat. Mengagumi bukan berarti harus memiliki kan. Menyukai bukan berarti harus mendapatkannya kan. Aku akan lebih senang kalau makhluk itu tetap bebas. Terbang kesana kemari sambil menuangkan kebahagian di hati tiap orang. Termasuk juga ke aku."
"Aku juga?"
"Tentu. Bayangkan saja bila kuciptakan sangkar untuknya. Ia bakal dengan senang hati menempatinya. Tapi apakah ia akan tetap bisa terbang bebas sebebas tanpa sangkar? Tidak kan."

Seketika aku berfikir apakah sangkar yang kubuat menghalangi terbangnya makhluk indahku? Kuharap aku perlahan menggunduli jeruji penyusunnya hingga nanti ia akan terbang bebas. Bukan terbang bebas tanpa tujuan. Dan nanti ia akan kembali ke taman tanpa jeruji.

"Lalu apa kau hanya akan tetap memandanginya, Rul?"
"Entahlah. Aku hanya tahu ia cukup indah. Aku masih belum mampu untuk menciptakan dunia untuknya yang bukan sesempit dan sesesak sangkar. Yang pasti aku akan membuatnya tapi tak tahu untuk siapa."
"Baiklah, pandangi saja, Sobat! Mumpung ia belum masuk ke sangkar manapun."

Senyum lebar dari bibir Ruli menutup obrolan singkat yang kami jalani tapi tak mengakhiri pikiranku. Kata-kata sahabatku ini masih melayang-layang di langit pikiranku. Yang pasti aku harus banyak bersyukur. Bersyukur atas apa yang kumiliki hari itu sampai hari ini. Bersyukur ada yang mau mampir ke sangkar buatanku. Jeruji-jeruji itu secara perlahan akan kuenyahkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar