September 22, 2011

Tanpa Pena

Adzan Isya' baru saja berlalu. Waktu menghadap Sang Pemilik Hidup telah datang. Momentum melaporkan diri bahwa aku hanya seonggok daging yang dengan kemurahannya diberikan nyawa. Saat di mana seorang makhluk membeberkan curhatan atas dunia dalam satu hari ini. Insya Allah sebentar lagi. Aku ingin sedikit melonggarkan pikiranku sejenak.
Aku heran, mengapa aku begitu menikmati ini. Dunia sempit di mana aku hanya menatap sebuah membran datar dan jemariku dengan ajaib melangkah mengikuti arahan pikiranku. Sebuah simfoni dengan keteraturan. Hati sebagai penyelarasnya. Sungguh aku ingin menulis. Walaupun tanpa sebuah pena.
Hingar bingar kehidupan hari ini cukup menguras energi. Bukan lewat otot yang dengan kompaknya berkontraksi-relaksasi. Namun lewat serangkaian kabel penyusun sirkuit listrik paling rumit di dunia. Otak. Hari ini aku banyak berfikir. Mulai tengah malam hingga tiba waktu paling mulia. Dan dengan bodohnya aku nyaris selalu melewatkannya. Kusandarkan tubuh sejenak hingga sang surya nyaris menampakkan senyumnya pagi tadi. Tak mau kalah, senyumku menyambut pagi tadi.
Seperti biasa, sebuah ruangan sempit 3x3 meter menyambut kehadiranku di kampus. Sebuah arena yang kuyakin penuh dengan manusia-manusia luar biasa. Bagaimana tidak. Mereka, mungkin juga aku telah berusaha menghimpun kebutuhan kami sendiri. Dahaga akan ilmulah yang melandasi perjuangan kami yang mungkin tanpa darah. Berlusin-lusin penjelasan atas tujuh belas pertanyaan telah disiapkan. Kami pun mulai menguntai jawaban, menganyamnya menjadi sebuah kesatuan, dan pada akhirnya sebuah citra baru dalam pikiran kami muncul. Istimewa untukku, makin bercahaya saja niatku untuk menjadi seorang ksatria Tuhan. Dokter. Ya, dokter!
Sesaat kemudian, aku bersama saudara-saudara hebatku beralih ke medan perang yang lain. Ini lebih luas. Jauh lebih luas dari sekedar ruangan 3x3 meter tadi pagi. Kami mulai menguras tenaga dengan fikir. Hingga matahari beralih ke sisi barat kepala kami. Satu persatu dari kami pun kembali ke sarang masing-masing.
Tibalah aku di sarangku yang sesungguhnya hanya sarang pinjaman saja. Melepas penat. Mendinginkan kepala. Merendahkan bahu yang cukup kaku seharian ini. Namun tak mengendorkan isi kepalaku yang aku ingin tetap terus berfikir. Kunanti anak-anak ideku lahir.
Lewat tulisan tak bertinta ini.
Sungguh kunikmati hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar