Dari sudut ruang yang sama namun waktu yang jauh berbeda. Sedikit akan kubagi sejumput kata yang mungkin hanya cerita, entah apakah ini penuh dusta.
Di satu ruangan sempit yang merupakan sarang pinjaman ini mulai kutulis. Sepi. Karena penghuninya sedang melayang dalam fantasinya di pulau busa, bukan lagi pulau kapuk. Nafasnya lambat, dalam. Mungkin menunjukkan betapa nikmatnya istirahat siang ini. Tapi yang tampak dari sudut mataku tak demikian. Dalam pandanganku manusia itu berusaha melupakan bebannya. Entah beban pikiran atau raga yang begitu berat. Raut yang penuh kelelahan benar-benar tak bisa disembunyikan. Inilah hebatnya prosesi tidur. Akupun berani berteori bahwa tak seorangpun mampu menyembunyikan apa yang ia pendam di dalam kolam pikir dan rasa yang ia miliki. Semua begitu jelas.
Tiba-tiba aku jadi teringat seorang tukang sol. Di benakku pekerjaan yang ia lakukan begitu berat. Seharian bahkan mungkin hingga petang ia masih ingin mendandani benda yang paling rendah di manusia tak peduli berapapun harganya. Dua puluh ribu, seratus ribu, sejuta, berjuta tetaplah sama. Yang namanya sepatu tetaplah sepatu. Tetaplah sepasang itu diinjak-injak. Bersama dua kota kayu terkelupas berwarna hijau yang ia panggul menggunakan sebilah kayu, tukang sol berwisata menjemput rejeki. Suatu siang kuamati tukang sol itu sedang terlelap di hamparan rumput hijau yang tak begitu luas. Damai. Cuma itu satu kata yang mampu menggambarkan dirinya atas kesoktahuanku. Kuamati ia cukup lama. Tetap damai yang terlihat.
Apakah beban yang ia panggul tak menyisakan kelelahan di bahunya?
Apakah langkah-langkah yang ia rengkuh tak membuat lecet kakinya?
Apakah cahaya terik matahari tak menghanguskan semangat berkaryanya?
Apakah kantong yang mungkin masih kosong tak membuatnya menuntut atas ketidakadilan Tuhan?
Lalu bagaimana dengan tidur yang setiap malam kulalui. Orang lain yang bisa melihatnya. Mengamatinya. Menilainya. Dan akhirnya memberiku tahu atas seperti apa wujudku saat berenang dalam empang mimpiku. Di mana aku sedang memancing ikan-ikan. Bukan ikan biasa.
Aku hanya bisa berharap semoga tidur-tidurku nanti adalah tidur yang penuh dengan syukur. Penuh dengan kuncup kedamaian. Sampai nanti aku tiba pada tidurku yang terakhir, kuharap senyum menyertaiku.
Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar