September 10, 2011

Mimpi, Pencerahan?

Mimpi apa aku barusan. Bukan tentangku, tapi tentang Ruli. Sudut pandangnya tentang kasih mengkasihi sungguh unik. Baik, kucoba merangkai ingatan yang perlahan pudar seiring dengan menyengatnya cahaya sang surya.
Kali ini dia mengenalkanku dengan seorang gadis. Kurasa aku tak mengenalnya namun di dalam ingatan sepertinya agak familiar. Tara. Dalam pita memori singkat berdurasi sekian menit, kulihat ia cukup periang. Energi positif berupa keceriaan dapat kuingat dengan jelas. Aku berfikir, selama ini kemana aura keceriaan yang aku idam-idamkan untuk bisa kubagi ke sekeliling? Entah apa karena dunia kedokteran menutupnya. Aku tak tahu.
Suatu sore Ruli, Tara, dan dua orang lain yang tak kutahu namanya bersafari bersama. Aku bisa melihat Ruli dan Tara duduk berdampingan. Cukup nyaman bagiku melihat mereka bertukar segalanya. Yang kutahu senyum dan tawa melingkupi seisi mobil itu. Bahkan aku yang tak terlibat sama sekalipun mampu untuk merasakannya. Sopir pun demikian.
Sampai di suatu titik, seseorang menelpon Tara. Obrolan via udara itu benar-benar tak dapat kuketahui. Mungkin hanya pemeran utama dalam sketsa mimpi semalam yang mengetahuinya. Tuhan pasti tahu. Cuap-cuap dalam gerobak itu pun berlanjut. Ruli dan Tara lagi. Isinya singkat. Sesingkat waktu di dunia dibandingkan dengan di akhirat yang penuh keabadian. Hanya Tuhan yang abadi. Surga dan neraka masih sebuah tanda tanya besar.
Tara berujar, "Cinta ditolak, Komitmen diterima."
Ruli hanya mengembangkan senyum seakan memberikan lampu hijau pada apa yang dikatakan Tara. Aku bisa menyelam dalam pikirannya dan seakan terbaca, "Nah, ini yang sebenarnya ingin kukatakan padamu sobat. Sejak dari dulu. Jujur aku benar-benar muak melihat hubungan yang dibangun hanya atas dasar sebuah perasaan cinta. Perasaan itu nyaris pasti surut seiring berjalannya waktu. Komitmenlah yang mampu menjaga jalinan indah itu. Cinta-kasih memang terasa sangat manis. Namun tanpa komitmen ia hanya akan menjadi racun yang seketika membunuh."
Aku pun tiba-tiba terbangun karena tak mau kalah dengan ayam jago. Aku ingin jadi jagoan. Mimpi itu seketika berakhir dengan sebuah kalimat saja disertai senyuman tanpa sebuah penjelasan. Sekarang tinggal aku seorang yang merenungkannya, mungkin yang lain juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar