Oktober 17, 2011

post-discussion

Di atas meja coklat luas, kumulai perjalanan di wadah tulis ini. Akhirnya, aku bisa menyempatkan pikiranku untuk tumpah, tapi tak membasahi meja. Hanya membasahi beberapa kepala manusia yang dengan isengnya membaca tulisan tak bermakna.
Ini adalah soal kekhawatiran. Kebimbangan. Sosok dengan jas putih terang yang ada di pikiranku mendadak mulai berganti. Menjadi sosok dengan jas penuh warna. Apa aku sudah tak berkeinginan lagi untuk menjadi dokter?
Tidak. Kutahu aku masih ingin menjadi itu. Bahkan lebih dari itu. Bukan sekedar dokter saja. Masih banyak hal lain yang bisa dicapai. Sejujurnya itu bukan tujuan akhir, karena aku menginginkan lebih. Wanita? hanya beberapa mili dari garis start perjalanan rally kehidupan.
Buat sebagian orang, termasuk aku juga, terbenam dalam dunia kedokteran membuat sesak nafas. Sesak. Namun masa depan yang ditawarkan cukup melonggarkan dada. Siapa yang tidak tergiur dengan rupiah yang bisa dihasilkan dari sentuhan tangan dan buah pikir manusia berjas putih? Siapa yang tak ingin jika mendapat segumpal pujian, terima kasih, bahkan doa dari manusia-manusia yang merasa telah ditolong padahal sesungguhnya Tuhan yang menolong?
Lalu mau dikemanakan diriku.
Mau menjadi apa nanti.
Yang jelas, mau jadi apapun nanti, aku hanya berharap kehadiranku dapat menjadi semilir angin yang menyejukkan buat orang-orang yang berada di sampingku. Bahkan yang jauh dari dekapanku.
Aku tak ingin menggalaukan masa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar