Ciputat, sudut sempit pinggiran ibukota, daerah perbatasan. Kutemukan bangsaku kembali di sini.
Beberapa jam lalu dengan sangat jelas aku mampu merasakan spirit Indonesia hadir di diri manusia-manusia di sekitarku. Aku juga. Ini hal yang lama yang dirindukan banyak orang. Aku juga. Aktivitas sederhana tapi sangat luar biasa untuk yang hadir. Aku juga.
Pagi ini kami hanya melakukan kerja bakti, hanya itu saja. Nilai semangat gotong royong yang terkandung di dalamnya sangat besar. Inilah Indonesia, bangsaku. Aku tak menyangka ini bisa hadir di daerah dengan manusia sibuk seperti ini.
Menilik pandangan setiap hari, manusia di sini luar biasa sibuknya. Sibuk dengan urusan pribadi. Lebih mementingkan ego daripada masyarakat. Individualistis, singkatnya. Lupa kalau mereka tinggal di mana. Lupa kalau di samping rumah mereka siapa, manusia juga bukan? Manusia apapun latar belakangnya, agamanya, statusnya tetaplah manusia. Ditakdirkan untuk hidup bersama dalam keberagaman. Menjalin hubungan kemasyarakatan yang harmonis. Sangatlah tak pantas apabila kerukunan yang indah ini hancur hanya karena perbedaan.
Kehidupan memang banyak berubah namun bukan berarti nilai luhur pudar, atau sengaja dipudarkan oleh sebagian golongan? Tugas kita sebagai manusia, makhluk Tuhan adalah memahami yang terjadi di sekitar kita dan melakukan tindakan nyata. Bukan sekedar menggembar-gemborkan naskah, tapi melakukan aplikasi dari esensinya, bukan apa yang kita lihat oleh mata belaka.
Menjaga tradisi lama yang baik, lalu mengambil sesuatu yang baik dari yang baru.
Sah-sah saja kita mengikuti trend yang mengikut arus modern tapi tradisi dan nilai luhur yang telah berkembang tetap dijaga. Tanpa sedikitpun ditinggalkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar