Penyakit itu sepertinya masih tetap bersarang di tubuh. Bukan di organ tubuh. Lebih tepatnya di hati.
Akupun menyadari betapa penyakit ini telah lama menggorogoti, membawa dampak yang sangat tak diharapkan. Ini adalah soal keenggananku untuk hanya sekedar mengucap kata 'maaf'. Dan di hari pertama di bulan yang mulia ini kusadari ia masih menginangiku. Padahal sesungguhnya aku tau aku salah. Aku tau aku mengambil langkah yang kurang berkenan untuk orang lain. Memang tak ada sama sekali maksud untuk menyakiti, tetapi tetap saja lidah ini terlalu tajam. Ingin hati hanya sekedar berucap, tapi di hati orang timbullah kekesalan teruntukku.
Mungkin ini bukan pertama kalinya aku menyadari. Apakah aku terlalu egois untuk melempar satu kata itu? Cuek?
Angkuh?
Gengsi?
Lewat jari ini kuucap kata maaf. Lewat kalam ini turut terbang sebuah doa, "semoga di bulan yang penuh rahmat ini, Kau dapat memberi rahmat dan hidayah sehingga di akhir nanti aku menjadi insan yang jauh lebih baik".
Akupun menyadari betapa penyakit ini telah lama menggorogoti, membawa dampak yang sangat tak diharapkan. Ini adalah soal keenggananku untuk hanya sekedar mengucap kata 'maaf'. Dan di hari pertama di bulan yang mulia ini kusadari ia masih menginangiku. Padahal sesungguhnya aku tau aku salah. Aku tau aku mengambil langkah yang kurang berkenan untuk orang lain. Memang tak ada sama sekali maksud untuk menyakiti, tetapi tetap saja lidah ini terlalu tajam. Ingin hati hanya sekedar berucap, tapi di hati orang timbullah kekesalan teruntukku.
Mungkin ini bukan pertama kalinya aku menyadari. Apakah aku terlalu egois untuk melempar satu kata itu? Cuek?
Angkuh?
Gengsi?
Lewat jari ini kuucap kata maaf. Lewat kalam ini turut terbang sebuah doa, "semoga di bulan yang penuh rahmat ini, Kau dapat memberi rahmat dan hidayah sehingga di akhir nanti aku menjadi insan yang jauh lebih baik".
ngga ada salahnya ngomong maaf put, ayo belajar mengurangi gengsi :D
BalasHapusiya mamah dedeh, thank yooouuu :D
BalasHapus