November 12, 2011

dunia meracau siang ini

Kucing cengkring datang, "meong-meong". Kubalas dengan hal yang sama. Ia lalu duduk, menjilati semua bagian tubuhnya. Tak bisa kubayangkan kalau aku mengikutinya juga. Yang ada cuma bau jigong akibat sudah sejak berapa abad tak mandi. Tapi aku menikmatinya walaupun orang lain meneriakkan protesnya atas aku.
Ini siang hari di pinggiran ibu kota, teriknya minta ampun. Tapi tenang saja, aku tak akan mengampuni karena justru akulah yang harus minta ampun pada yang telah menciptakan panas ini. Atas protesku terhadap segala nikmat yang harusnya kusyukuri. Di tengah hari ini aku cuma ingin melaporkan pada dunia tentang apa-apa yang terjadi dalam pekan ini. Cukup menarik, tapi cukup membuat orang lain ingin mengeluarkan isi perutnya.
Senin sampai jum'at, tetap dengan rutinitas luar biasa. Karena aku tak ingin menjadikannya biasa-biasa saja. Kuliah, diskusi, praktikum, tugas, buku, dan hal yang menjadi santapan telah berlalu. Tapi ada yang sangat kurindukan di akhir pekan ini. Seminar. Aku masih bisa dengan gamblang mengidentifikasi betapa di dalam kepala dan dada ini masih ada energi besar untuk digunakan. Bukan dipakai untuk hal yang menjadi rutinitas, tapi untuk suatu hal baru yang dibungkus dalam sebuah rundown yang dengan susah payah dibikin oleh panitia. Energi itu sebagian telah tersalurkan dengan rapi semalam.
Sekedar berkisah, semalam organisasi yang menjadi pijakanku di perkuliahan ini mengadakan sebuah kajian dan diskusi, tapi menurutku lebih pantas kalau acara semalam dibilang main-main. Bukan main-main biasa. Seseorang yang datang pun tak main-main. Tapi bisa membuat tubuh, otak, dan hati sahabat-sahabat dan aku bermain-main sebebas-bebasnya.
Sebenarnya cukup banyak hal kudapat dalam beberapa jam saja semalam, namun ada satu yang sangat membuatku dengan mudah mengingatnya. Aku begitu membutuhkannya. Sederhana, tapi dengan bodohnya aku lalai.
Ini hanya soal keterbukaan, kepercayaan diri, dan kebebasan. Sederhana tapi sangat luas penerapannya. Sejujurnya aku sangat ingin bisa menyapa setiap orang yang kutemui di penghujung dunia manapun. Tapi hanya gara-gara berfikir terlalu ke depan, dengan berasumsi yang macam-macam aku membatalkannya, pun hanya tersenyum pun aku enggan. Kuyakin beberapa orang di luar sana sedikit sama denganku. Aku ingin tersenyum pada dunia seisinya :)
Kadang aku juga tiba-tiba menjadi paranoid. Merasa terancam keberadaanya akibat sesuatu yang lain. Entah manusia atau bukan. Ini soal percaya diri, jelas soal ini. Orang yang percaya diri, mampu mengetahui sejauh mana yang ia miliki. Sejauh mana dirinya dapat berbuat. Sejauh mana pengaruhnya dapat diberikan ke atmosfer di sekitarnya. Orang yang hebat adalah yang mampu mengenal dirinya sendiri. Dan aku, sudahkah mengenal aku? Belum.
Keterbukaan. Mengizinkan semuanya yang ada di dunia masuk. Apalagi manusia. Yang menurutku jauh dari kesempurnaan, tapi menurut beberapa orang sangatlah sempurna. Secara buka-bukaan aku mengakui betapa aku sulit untuk menerima perbedaan. Masih begitu berat untuk menerima manusia lain dengan kondisi yang tampak jelas di mataku aneh. Akulah yang aneh. Seharusnya aku tak membawa orang di sekitarku untuk menjalani hidupnya sesuai dengan caraku. Biarkan semuanya bebas. Biarkan mereka keluar, mengeksplorasi dunia dengan cara yang unik karya sendiri. Biarkan perbedaan itu ada.
Perbedaan itu nyata.
Perbedaan itu relita.
Perbedaan itu tak sama.
Perbedaan itu rahmat.
Perbedaan itu luar biasa.
Perbedaan itu kekuatan.
Pada akhirnya akupun harus mengakui bahwa manusia itu sempurna. Sempurna dengan adanya ketidaksempurnaan. Ketidaksempurnaan yang membuat ketidaksempurnaan lain menyempurnakannya. Mengisi lubang di jalan dengan aspal. Kemudian menghaluskannya. Memberikan segenap yang kita punya untuk manusia lain. Bersama menjadi sempurna. Sama-sama mencapai kemenangan. Sangat indah bukan?
Last but not least, aku masih ingin terus terbang. Menjelajahi dunia. Terbang setinggi-tingginya sehingga aku bisa melihat betapa besarnya ini semua. Lalu menyadari kalau aku yang kecil ini merupakan bagian dari dunia dan bisa memberikan sumbangsih untuk kebaikan dunia. Namun tak lupa, aku masih punya sarang. Aku masih punya rumah yang menjadi pijakan. Itulah zona nyaman. Tapi aku harus keluar. Tanpa lupa pijakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar