Juli 28, 2011

angin segar

Setelah beberapa hari dengan kekhawatiran yang sangat, akhirnya kabar baikpun terdengar juga. Ini terjadi hanya sehari lalu.
Di pagi buta, aku terbangun dan hendak mengambil beberapa tetes air wudhu. Seorang kawan pun terbangun. Ia memegang ponselnya dan diamatinya layar yang bercahaya itu. Ia pun tersenyum berteriak mengucap syukur atas kabar baik yang didengarnya. Biru. Ya, itu kata yang terdengar di telingaku. Aku memahami maksudnya, lantas akupun tersenyum padanya menunjukkan kalau dopamin dalam otakku telah meningkat. Senang atas kebahagiaan yang diraihnya.
Hatiku membiru. Semakin biru dengan birunya teman-temanku. Ataukah hijau karena ada yang biru dan ada yang kuning. Namun, tetap saja masih tertinggal kesesakan. Masih ada yang belum berhasil. Sekali lagi ditegaskan BELUM BERHASIL, bukan tidak berhasil.
Pada detik ini, bersama sampah yang ditulis di gudang ilmu, teriring harapan dan doa untuk kawan tercinta. Semoga di kesempatan yang hanya sekali dan sesaat lagi terjadi, Yang Maha Rohim selalu menuntun dan memberi kasih sayangNya untuk kalian semua.
Sukses untuk kita semua, PSPD 2010

Juli 26, 2011

anugerah? musibah?

Ini adalah satu pertanyaan besarku untuk kondisi 2 hari terakhir. Di mana sangat sulit buatku untuk memposisikan diri. Di saat sangat rumit untukkku mengambil sikap yang tepat.
Kondisi ini cukup membuatku gerah. Gerah segerah-gerahnya. Mungkin beberapa memandangku cukup santai dengan pencapaian yang telah kuraih. Tapi sejujurnya ada yang sangat mengganjal di sini. Aku bersama beberapa orang dengan warna biru, namun yang lain dengan warna kuning dan merah.
Lalu apa yang bisa kuperbuat?
Support? Dukungan? Bantuan? NO ! Yang ada dibenakku kini hanya sekedar berbagi atas setitik ilmu Tuhan yang sedikit membekas dalam diriku.

Juli 21, 2011

cintakah (?)

Lima huruf, sarat makna. Nyaris setiap orang merasakannya. Sebuah rahmat yang datang dari Maha Kasih. Ini bukan tentang apa yang dikatakan muda-mudi yang dimabuk asmara. Itu bukan tentang apa yang dirasakan dua sejoli yang tengah bersama. Tapi ini tentang sebuah pemberian, pemberian dari lubuk hati yang terdalam. Aku pun merasakan ini dari Tuhan, yang memberiku semua kenikmatan ini. Dari sang Pencerah yang sangat mengasihi umatnya walaupun tak bertemu. Dari ayah bunda yang mencurahkannya hingga detik aku bernafas saat ini. Dan untuk siapa saja nanti yang mendampingiku, semoga rahmat dari pemilik hidup ini bisa aku berikan. Bukan utuh, tapi terbagi.

Juli 11, 2011

Everyday is Sunday, though it's Monday

Haha kata-kata inilah yang selalu ada di benakku selama perjalanan modul yang terjal ini. Bukan bermaksud meremehkan hari-hari yang padat jadwal, tapi hanya mencoba untuk menghibur diri. Minggu identik dengan kelonggaran, di mana sepanjang harinya diisi dengan bersenang-senang. Hari yang sangat ditunggu sebagian besar manusia. Inilah kenapa aku yang manusia ini menggemari hari di penghujung pekan ini. Ketenangan, ke'relax'an, kedamaian, bahkan keleluasaan yang mengisi hari Minggu. Sedangkan hari lainnya yang penuh dengan aktivitas, mulai dari kuliah, organisasi, dan seribu macam urusan lainnya. 

Tiap hari bak Minggu. Inginnya seperti itu sih, tapi kenyataannya tak bisa demikian. Jadi aku cuma bisa mengasumsikan kalau setiap hari itu Minggu, liburan! Sebenarnya setelah diterawang jendela pikirku mengatakan kalau kata-kata ini ada benarnya juga. Kepenatan yang kurasakan sepanjang hari selain Minggu nampaknya butuh obat. Kalimat mujarab yang bisa mengendorkan sedikit otot yang tiap hari nyaris tegang bahkan menegang. Dengan menganggap setiap hari adalah Minggu, maka pikiran kita akan menjadi relaks. Apapun permasalahan yang dihadapi, apapun tugas yang menghadang, dan apapun yang terjadi nanti akan bisa dihadapi dengan kepala dingin, dan hati dingin tentunya.

Hari ini memang Senin, bukan berarti hari yang sibuk. Hari ini kudapatkan rejeki nomplok. Kuliah sampai jam 10 doang. Jarang-jarang lah dapat diskon begini. Harap dimaklumi, mungkin buat sebagian mahasiswa hal seperti ini biasa saja atau malah nyaris tiap harinya terjadi. Tapi buat aku dan teman-teman, peristiwa bersejarah ini terhitung langka. Kami mahasiswa kedokteran yang rindu akan datangnya hari libur. Bayangkan saja betapa mirisnya kami. Teman-teman lain sudah libur, berkumpul dengan ayah, ibu, kakek, nenek, pakdhe, budhe, tante, om, adik, kakak, keponakan, mungkin buyut juga ya(?) dan kami masih terpaku di kursi kelas. Apa gara-garanya kursi ini jatuh cinta pada kami ya haha. Yang jelas semua ini akan mendapat bayaran dari empunya hidup. Jerih payah ini pasti akan mendapatkan hasil di hari kemudian. Mungkin hari ini kami teraniaya *lebay. Tapi lihat saja nanti, kami siap untuk menjadi dokter, menjadi putra dan putri bangsa yang siap mengabdikan diri ke bumi pertiwi ini.

Tiba-tiba teringat sebuah kalimat bijak. "Sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan sekarang, akan memberikan dampak yang merupakan hasil dari perbuatan itu". Rangkaian kata-kata ini lah yang coba aku pegang dan wujudkan dalam tindakan. Banyak orang bermimpi untuk melakukan hal besar. Tapi tidakkah sadar bahwa semua itu butuh proses. Semua itu butuh aksi, bukan sekedar mimpi. Aksi yang sekarang bisa dilakukan adalah melakukan hal-hal kecil,tapi ini bukan berarti kecil. Justru hal kecil inilah yang akan membentuk kita menjadi apa di masa depan nanti. Contoh simple, coba kita tengok ke belakang, di mana dulu kita berada di masa lampau. Ingatkah kita pada apa yang kita bicarakan, apa yang kita katakan, dan apa yang kita harapkan. Sekarang coba lihat hari ini bagaimana cara kita berbicara, apa kita katakan, dan apakah harapan yang dulu kita terbangkan telah terwujud. Semuanya kuyakin ada keterkaiatan dan ini merupakan rahasia Sang Pemilik Hidup.

Sepertinya setelah dilihat-lihat, tulisanku di blog masih pendek ya. Sudah pendek isinya juga membingungkan. Namun seiring dengan hari, seiring dengan semakin seringnya aku menulis, aku yakin karakter tulisanku akan dengan sendirinya terbentuk. Bukan tulisan orang, tapi tulisan yang kubikin sendiri. 

^_^
k.a.p

Juli 06, 2011

Long time no write

Yeah, it's July..
Sudah lama juga sepertinya aku tidak menyentuh blog ini, mohon maaf ya. Mungkin tulisan di bulan ke tujuh ini sedikit menggambarkan adanya perubahan dalam beberapa hal dalam hidupku, seorang mahasiswa kedokteran.
Sejak Juni lalu, memang terasa ada perubahan, namun masih dalam hal yang kecil. Mungkin hanya masalah jam kuliah yang 11-12 ama anak SMA. Berangkat jam 7, pulang jam 4 sore. Mungkin hal inilah yang jadi penyebab aku belum bisa mengenal banyak orang di rumah baru. Bahkan tetangga yang temboknya nempel pun belum kenal. Sungguh ironi.Tetapi tak apalah, nanti juga ada saatnya kami saling mengenal. Apa harus merobohkan tembok pemisah rumah ya biar bisa kenal? *ngarepnya sih begitu
Tadi itu masih belum apa-apa. Hal yang tentu berubah adalah jam biologis. Jam tidur yang berantakan ini lumayan mengganggu. Dulu modul yang masih terhitung 'ringan' dibandingkan sekarang, jam biologi masih teratur. Ada waktu istirahat, waktu bermain, dan menghabiskan waktu senggang bersama kawan seperjuangan. Tapi sekarang sepertinya sudah sirna *lebay . Modul yang ini benar-benar menyita energi dan waktu, benar-benar membutuhkan fokus tinggi. Sekarang tiap hari harus belajar, harus mencari makanan, nutrisi buat otak.
Sebenarnya hal ini wajar. Kesibukan seperti ini mutlak menjadi makanan utama bagi mahasiswa kedokteran. Namun, aku sepertinya dimanjakan dengan kelonggaran di modul-modul sebelumnya. Jadi masih sedikit ada jeritan untuk kembali ke modul yang lalu. Tapi aku sadar, kalau hanya menilik ke yang lama tak akan membawa progress dalam diri. Ilmu pun menjadi stagnan. Pengetahuan tak akan bertambah. Maka, ini saatnya buatku untuk menggali potensi diri yang diberikan empunya hidup semaksimal mungkin.
Ada satu hal lagi yang masih mengganjal. Aku merasakan diri ini menjadi dingin sejak di modul ini. Yang jelas bukan karena ada peningkatan jumlah reseptor yang peka terhadap rangsang dingin. Hipotesis yang kubuat adalah dengan kesibukan ini, pikiran hanya tertuju ke situ. Hal lain kadang dilupakan. Mungkin beberapa centi lagi mendekati autisme, tapi bukan itu. Yang terjadi nampaknya lebih karena pikiranku mulai terhipnotis ke indahnya dunia kedokteran, tapi hanya ke pengetahuannya saja. Belum menyentuh ke seni dari menjadi seorang dokter. Dengan ini teriring doa buatku sendiri agar bisa menguasai ilmu dan seni kedokteran. Menjadi dokter yang luwes. Luwes ilmunya dan luwes pembawaannya.

cmiiw
^_^
k.a.p