Desember 25, 2011

kurasakan kembali, Indonesiaku

Ciputat, sudut sempit pinggiran ibukota, daerah perbatasan. Kutemukan bangsaku kembali di sini.
Beberapa jam lalu dengan sangat jelas aku mampu merasakan spirit Indonesia hadir di diri manusia-manusia di sekitarku. Aku juga. Ini hal yang lama yang dirindukan banyak orang. Aku juga. Aktivitas sederhana tapi sangat luar biasa untuk yang hadir. Aku juga.
Pagi ini kami hanya melakukan kerja bakti, hanya itu saja. Nilai semangat gotong royong yang terkandung di dalamnya sangat besar. Inilah Indonesia, bangsaku. Aku tak menyangka ini bisa hadir di daerah dengan manusia sibuk seperti ini.
Menilik pandangan setiap hari, manusia di sini luar biasa sibuknya. Sibuk dengan urusan pribadi. Lebih mementingkan ego daripada masyarakat. Individualistis, singkatnya. Lupa kalau mereka tinggal di mana. Lupa kalau di samping rumah mereka siapa, manusia juga bukan? Manusia apapun latar belakangnya, agamanya, statusnya tetaplah manusia. Ditakdirkan untuk hidup bersama dalam keberagaman. Menjalin hubungan kemasyarakatan yang harmonis. Sangatlah tak pantas apabila kerukunan yang indah ini hancur hanya karena perbedaan. 
Kehidupan memang banyak berubah namun bukan berarti nilai luhur pudar, atau sengaja dipudarkan oleh sebagian golongan? Tugas kita sebagai manusia, makhluk Tuhan adalah memahami yang terjadi di sekitar kita dan melakukan tindakan nyata. Bukan sekedar menggembar-gemborkan naskah, tapi melakukan aplikasi dari esensinya, bukan apa yang kita lihat oleh mata belaka.
Menjaga tradisi lama yang baik, lalu mengambil sesuatu yang baik dari yang baru.
Sah-sah saja kita mengikuti trend yang mengikut arus modern tapi tradisi dan nilai luhur yang telah berkembang tetap dijaga. Tanpa sedikitpun ditinggalkan.

Desember 23, 2011

ia pun masih terbang


Perjalanan mampu menghasilkan banyak kisah, membawa oleh-oleh untuk manusia dan dunia. Bagaimana dengan perjalanku? Semoga tak sia-sia sajalah semua yang telah terlewati, dilewati, dilewatkan, dan terlewatkan. Setidaknya ada segelintir pikiran yang cukup usia untuk lahir malam ini.
Ini soal burung betina. Ia elok.  Bahkan untuk mahluk seperti pohon pun mengakuinya. Ia menghipnotis. Bahkan pohon pun merelakan dirinya untuk melakukan sesuatu luar biasa demi sang burung betina. Beberapa pohon mungkin telah melakukan kegilaan, melewatkan dirinya sendiri dan mengalihkan pandangan atau juga nafasnya hanya untuk menikmati keindahan itu.
Pohon-pohon itu tampak masih kokoh berdiri tanpa seorang pun tahu seberapa keropos batang yang menopangnya. Batang itu mungkin kopong hanya karena seekor burung betina yang tak berekor. Batang itu rela melewatkan dirinya tak terisi oleh benih kehidupan karena lebih menginginkan bagian lain tumbuh dengan sempurna. Dahan. Ditumbuhkan dengan penuh cinta untuk sang burung seorang. Dirindangkan begitu rindang untuk membuat sang betina merasakan nikmatnya keteduhan dalam atmosfer perlindungan. Sadarkah pohon kalau burung betina tak selamanya berada di sisi mereka?
Burung betina hanya singgah. Cuma mampir saja.
Sekarang ia terbang lagi, melanglangbuana ke luasnya dunia. Mencari pohon yang sempurna untuknya. Melirik dahan yang satu dan menyingkirkan dahan yang lain. Meninggalkan beberapa jejak di pohon, tai kering yang hanya bisa hilang jikalau pohon menanggalkan dahannya agar tetesan air langit bisa menghapusnya. Membersihkan jejak kotor dan menumbuhkan batang yang jauh lebih kokoh.
Lalu kemanakah burung betina itu detik ini? no one knows.
Semoga lekas ia menemukan pohon terbaik tanpa meninggalkan tai lagi.

Desember, akhir.

Oke, sobat-sobat yang mungkin tak kukenali di luar sana. Bahkan yang kukenali, tapi aku belum mengenalnya secara penuh. Atau seharusnya aku sendiri yang membutuhkan eksplorasi diri lebih jauh, jauh lebih dalam.
Salam, jemari ini akan bersenam beberapa hari dan memeriahkan dunia. Menjadi bagian dari dunia yang sudah hiruk pikuk. Selamat datang di dunia, buah pikirku!