Oktober 29, 2011

bocah ingusan menuntut tuhan

Seorang sahabat duduk terdiam. Hanya tampak terdiam. Namun begitu didekati, sesungguhnya seluruh badannya berteriak. Menggugat apa yang dialaminya saat itu. Aku sama sekali tak terkaget.
Aku pernah, menuntut Tuhan. Di mana kurasakan ketidakadilannya. Di mana semua rencana luar biasa telah dibuat. Skenario telah disiapkan dengan nyaris sempurna. Dan pada akhirnya semua kandas.
Memang saat itu aku masih bocah, namun visiku telah terbang setinggi-tingginya. Harapan yang ditembakkan oleh meriam piikiranku sekilas tampak menembus segerombol awan putih yang kini agak menghitam di langit Jakarta. Dan dengan kuasa Tuhan, seketika harapan itu hilang dari pandangan.
Hari-hari setelah itu begitu kosong. Bagaimana tidak? Aku hanya mengunci diriku sendiri dalam raga yang berdaging ini. Aku sama sekali tak membiarkanku keluar. Aku hanya berteriak sejadi-jadinya di dalam. Mungkin di dalam ruang sekecil-kecilnya di sel pun aku masih berteriak. Berharap semua teriakan itu tersampaikan kepada sang pemilik hidup.
Oh my, bodohnya aku. Bahkan dari zaman masih bocah. Apa memang aku terlahir bodoh? Atau aku punya kecacatan mental, mungkin keterbelakangan mental? Atau kesempurnaan yang begitu kuidamkan manjadikanku moron, idiot. Hingga suatu waktu, aku masih takut untuk membiarkan harapan-harapan untuk terbang bebas ke langit.
Detik ini aku mulai memahami kesemuanya itu. Menyadari kalau semua yang pernah terjadi turut membentukku hingga menjadi makhluk yang seperti ini, saat ini. Memang belum sempurna, bahkan tak pernah menjadi sempurna. Tapi mengapa keinginan untuk menjadi sempurna masih tersempil di sela iga? Obsesif kompulsif.
Soal harapan itu, aku hanya bisa berspekulasi saja kali ini. Mereka memang hilang dari pandanganku saat itu. Mereka melesat menembus awan hingga mata tak mampu menjangkau lagi. Mungkin mereka masih dalam perjalanan. Dan saat sampai nanti, meraka akan menyampaikan angan-anganku saat aku tersadar penuh atau yang hanya lamunan saja.
Tuhan pasti menjawab semuanya. Maafkan aku, pernah mengadili sang Maha Adil.

Oktober 24, 2011

keacakan berulang kembali

Kembali terduduk dengan perut penuh, apa mungkin ini terlalu penuh? Di atas karpet hijau sisa acara yang belum sempat dikembalikan ke pemiliknya, kumulai menguapkan angan-angan yang sejak beberapa hari ini tak bisa terbebas ke udara. Membeku dan terkunci rapat di dalam tempurung kepala.
Wow, seseorang menulis: "Cinta adalah pemujaan. Bagaimana mungkin seseorang yang memuja anda akan menyakiti anda?"
Inilah realitanya. Untuk beberapa manusia di luar sana memang sangatlah mudah mengutarakan bahasa cinta. Sebuah kata yang sakral dan memiliki arti cukup dalam. Apa mungkin hanya buatku saja? Yang jelas lima huruf itu bak pisau bermata dua. Sama-sama tajam. Bisa membawa orang menuju atmosfer penuh dengan kedamaian saat merasakannya atau bahkan bisa membuat segumpal daging di tubuh seseorang tersayat begitu dalam. Hingga jahitan tak bisa menutup sayatan yang terlanjur terbentuk itu.
Sepertinya aku pernah meninggalkan sebuah sayatan di segumpal daging seseorang. Semoga segera datang orang lain yang bisa memberikan jahitan spesial untuknya. Yang jelas aku tak berharap orang lain itu adalah aku.
Oh iya, seorang sahabat pengembaraanku sedang terhenti sejenak langkahnya. Ia jatuh. Namun aku tak bisa menolongnya kali ini. Doalah satu-satunya yang bisa kukirimkan untuknya. Semoga ia lekas bangkit dan turut dalam pengembaraan lagi.
Get well soon, Jan !

Oktober 17, 2011

post-discussion

Di atas meja coklat luas, kumulai perjalanan di wadah tulis ini. Akhirnya, aku bisa menyempatkan pikiranku untuk tumpah, tapi tak membasahi meja. Hanya membasahi beberapa kepala manusia yang dengan isengnya membaca tulisan tak bermakna.
Ini adalah soal kekhawatiran. Kebimbangan. Sosok dengan jas putih terang yang ada di pikiranku mendadak mulai berganti. Menjadi sosok dengan jas penuh warna. Apa aku sudah tak berkeinginan lagi untuk menjadi dokter?
Tidak. Kutahu aku masih ingin menjadi itu. Bahkan lebih dari itu. Bukan sekedar dokter saja. Masih banyak hal lain yang bisa dicapai. Sejujurnya itu bukan tujuan akhir, karena aku menginginkan lebih. Wanita? hanya beberapa mili dari garis start perjalanan rally kehidupan.
Buat sebagian orang, termasuk aku juga, terbenam dalam dunia kedokteran membuat sesak nafas. Sesak. Namun masa depan yang ditawarkan cukup melonggarkan dada. Siapa yang tidak tergiur dengan rupiah yang bisa dihasilkan dari sentuhan tangan dan buah pikir manusia berjas putih? Siapa yang tak ingin jika mendapat segumpal pujian, terima kasih, bahkan doa dari manusia-manusia yang merasa telah ditolong padahal sesungguhnya Tuhan yang menolong?
Lalu mau dikemanakan diriku.
Mau menjadi apa nanti.
Yang jelas, mau jadi apapun nanti, aku hanya berharap kehadiranku dapat menjadi semilir angin yang menyejukkan buat orang-orang yang berada di sampingku. Bahkan yang jauh dari dekapanku.
Aku tak ingin menggalaukan masa depan.