Untung ada kalian yang sore lalu mengajarkanku tentang sebuah pelajaran yang harusnya sudah lama aku tahu. Sederhana, namun nampaknya ada penghalang besar yang berusaha menolaknya dari dalam. Buat orang lain mudah, tapi nyatanya buatku sulit setengah hidup. Hanya kata maaf. Itu saja.
Sore itu aku dibuat diam sesaat. Berkaca pada cermin imajiner yang di dalamnya muncul bayangan klise-kliseku sendiri bersama orang-orang yang ditakdirkan hadir di sekililingku. Aku menyadari ada keengganan yang muncul untuk sekedar mengucap kata maaf. Ada makhluk yang meronta-ronta ingin keluar dari jeruji namun ada kesadaran atau mungkin gengsi yang berusaha menguncinya rapat-rapat hingga tak ada kesempatan untuk keluar.
Baiklah, aku bisa mengucap maaf kalau memang aku merasa salah dan aku yang salah. Apakah ini salah? Apa aku harus berpura-pura meminta maaf ketika secara sadar penuh tak terbesit perasaan bersalah? Yasudahlah aku ikut kalian. Mungkin kalian benar. Dalam perspektif orang lain aku memang bisa saja menjadi yang tertuduh dan harus mengeluarkan empat huruf sederhana itu padahal tak ada sama sekali kesadaran kalau bersalah. Sungguh apakah aturan yang katanya universal ini hanya menunjukkan sebuah kemunafikan belaka, semoga tidak.
Pagi ini hanya dapat kuucapkan terima kasih kepada semesta, karena sungguh pelajaran hidup bisa datang dari mana saja. Apakah kicauan burung yang ramai bak pasar di luar jendela ini juga termasuk salah satunya?
halooo saya pindah di flying19.blogspot.com see you there :D
BalasHapus