Sosok makhluk asing itu lambat laun kian mendekat,
dengan sangat hati-hati ia mendekat.
Seiring berjalan, bayangan samar itu agaknya menunjukkan jati diri.
Asli, tanpa rekayasa lagi.
Kami tak mampu melihat,
hanya dengan rasa coba diraba.
Kamu tak mampu melesat,
karena sinarmu hanya terpantul oleh cermin-cermin yang terpasang rapi di dinding duniawi.
Akan tiba saatnya terpaku, tanpa harus membeku.
Karena justru akan melesat, lewati sudut sempit cermin,
lalu berpendar terangi dinding surgawi.
Lagi-lagi hidup tak hanya soal pilihan tapi juga soal kesempatan, dan sebaliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar