Dalam sebuah miniatur Indonesia, yaitu Ciputat aku belajar suatu hal yang sangat penting. Bukan tentang ilmu kedokteran, bukan tentang sains, namun tentang ilmu sosial, ilmu untuk menjalani hidup.
Hiruk pikuk jalanan kota ini memang sangat tak asing. Namun mungkin hanya beberapa orang saja yang menyadari sebuah pelajaran berharga ini. Mungkin ini sebuah ilham, atau hanya pemikiranku saja sebagai seorang manusia. Tak penting asal usulnya, yang jelas ini menambal ketidaktahuanku akan bermasyarakat.
Suatu hari aku dengan rutinitasku sebagai mahasiswa, berkendara melintasi jalanan. Hanya dengan naik motor pinjaman yang dilabeli sebagai barang inventaris kamar. Sendiri kukendarai motor. Mobil, motor, truk, bus, dan bahkan pejalan kaki pun menjadi teman seperjalananku di tempat itu. Sebagai anak muda yang kata Rhoma Irama masih berapi-api, aku berkendara sangat kencang. Selip kanan, selip kiri. Mobil dan kawan-kawannya dengan mudah kulewati.
Di atas motor itulah kunikmati adrenalin dalam kencangnya berkendara. Benar-benar nikmat. Bisa cepat sampai tujuan. Hemat waktu. Hemat bensin.
Di atas motor pinjaman itu juga tiba-tiba terlintas sebuah pikiran. Mungkin sebuah dialog dengan diri sendiri.
"Enak ya, naik motor kenceng. Mobil mah lewat. Kasian tu yang naik mobil,lama di jalan. Motor, udah murah, cepat, bisa lewat jalan tikus."
"Tapi, dulu aku juga nyetir mobil. Emang lama. Sering juga marah-marah di mobil gara-gara pengendara yang ngawur. Pengen teriak-teriak, tapi apa mungkin yang di luar itu dengar?Apa mereka nyadar kalo itu membahayakan?Dasar pengendara motor ngawur!Cari mati lo!"
"Oh iya, orang nyetir keganggu banget ya kalo pengendara motor itu ngawur. Haha malu juga menyadari ternyata barusan aku kenceng banget kalo bawa motor. Mungkin yang bawa mobil juga keganggu. Padahal waktu kami juga berjalan sama. Kami sama-sama punya keperluan yang buat masing-masing penting. Kami juga punya keluarga di rumah."
"Jadi betapa gobloknya aku selama ini. Betapa aku telah dengan egoisnya mengganggu orang lain di jalanan. Semoga saja orang yang jadi korbanku ini memaafkanku dan baik-baik saja. Semoga ku bisa bertobat dan ga mengulangi lagi."
Sebuah ilustrasi tadi, marilah kita menilik suatu masalah dari sisi pandang yang berbeda. Di suatu organisasi, mungkin kita bisa mencoba untuk menempatkan diri, mencoba mengambil peran yang berbeda-beda, misal jadi ketua,lalu anggota, lalu bendahara, untuk merasakan suka duka di setiap posisi itu sehingga kita bisa dengan cerdasnya menyikapi dan mengambil sikap.
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar